Jakarta Setiap 23 April, dunia memperingati Hari Buku Sedunia. Buat kebanyakan orang, buku itu jendela ilmu. Tapi coba lihat dari sisi lain: bagi kolektor kelas kakap, buku adalah benda bersejarah yang nilainya bisa jauh melampaui emas. Sungguh, ini bukan sekadar tumpukan kertas.
Nah, kombinasi antara kelangkaan, sejarah yang kuat, dan keindahan ilustrasi tangan itu semua bikin beberapa buku berikut laku dengan harga fantastis di balai lelang macam Christie’s dan Sotheby’s. Penasaran? Berikut daftar 10 buku termahal di dunia yang pernah terjual. Bukan main-main angkanya.
The Book of Mormon (Draf Asli, 1830) – Rp560 Miliar
Ini pemegang rekor sebagai buku antik termahal yang pernah terjual. Naskahnya adalah draf cetak asli, ditulis tangan sesuai dikte pendiri Mormonisme, Joseph Smith. Pada 2017, buku ini laku US$35 juta atau kalau dirupiahkan, sekitar Rp560 miliar. Angka yang sulit dibayangkan, ya?
The Codex Leicester (Leonardo da Vinci) – Rp492,8 Miliar
Buku setebal 72 halaman ini isinya catatan ilmiah dan ilustrasi tangan sang maestro Renaissance, Leonardo da Vinci. Uniknya, ditulis dengan gaya tulisan terbalik cermin, gitu. Dibeli Bill Gates seharga US$30,8 juta (setara Rp492,8 miliar). Bayangkan, seorang jenius dan seorang miliarder bersatu dalam satu benda.
Magna Carta (Abad ke-13) – Rp341,1 Miliar
Dokumen ini dianggap fondasi sistem hukum modern di dunia. Versi yang terjual lewat Sotheby’s ini punya nilai fantastis: US$21,3 juta atau sekitar Rp341,1 miliar. Kondisinya masih sangat terawat, makanya harganya selangit. Menurut sejumlah saksi di dunia lelang, ini salah satu lot paling bersejarah.
Buku era Gotik ini adalah kumpulan dongeng tentang hewan ada yang nyata, ada yang mitologi. Naskah misterius ini dihiasi lebih dari seratus gambar abad pertengahan yang memukau. Nilainya ditaksir mencapai Rp320 miliar. Bikin penasaran, siapa yang berani membayar segitu?
St. Cuthbert Gospel (Abad ke-7) – Rp228,8 Miliar
Ini buku tertua dalam daftar. Ditemukan kembali dari makam St. Cuthbert, buku saku ini sangat berharga karena jilid aslinya yang tertua di dunia masih bertahan. Harganya US$14,3 juta atau Rp228,8 miliar. Bisa dibayangkan usianya? Lebih dari seribu tahun.
Bay Psalm Book (1650) – Rp226,6 Miliar
Buku ini punya nilai sejarah tinggi sebagai buku pertama yang dicetak di Amerika Utara. Hanya ada 11 salinan yang diketahui masih ada di dunia. Kelangkaan itu bikin harganya meroket hingga US$14,1 juta (Rp226,6 miliar). Namanya juga langka, siapa cepat dia dapat.
The Rothschild Prayerbook (Abad ke-16) – Rp208 Miliar
Manuskrip doa dari era Renaissance ini dihiasi ilustrasi sangat detail oleh master lukis Gerard David. Pada 2014, buku ini terjual seharga US$13 juta atau sekitar Rp208 miliar. Cantik banget pastinya, sampai-sampai orang rela merogoh kocek dalam.
The Birds of America (1827-1838) – Rp154,4 Miliar
Karya John J. Audubon ini berisi lebih dari 1.000 spesies burung yang digambar sesuai ukuran aslinya. Warna-warnanya masih cemerlang, dan kelangkaannya bikin buku ini laku US$9,65 juta (Rp154,4 miliar). Di sisi lain, ini juga jadi bukti betapa indahnya alam dulu.
The Bomberg Talmud (Edisi 1519-1539) – Rp149,1 Miliar
Dicetak dengan bahasa Ibrani asli di Venesia, buku ini dipuji karena keindahan teknik cetak dan penjilidannya yang mewah. Koleksi ini terjual dengan harga US$9,3 juta atau Rp149,1 miliar. Bukan main, detailnya bikin para kolektor ngiler.
Fragmen Al-Qur'an (Abad ke-7) – Rp50,1 Miliar
Manuskrip ini mencetak rekor untuk teks Islam antik. Ditulis menggunakan aksara Hijazi salah satu bentuk kaligrafi Arab tertua lembaran ini terjual £2,48 juta atau Rp50,1 miliar. Meski harganya paling “rendah” di daftar ini, tetap saja bikin geleng-geleng kepala.
Nah, melihat nilai jual yang terus meroket, buku-buku langka ini kini bergeser jadi instrumen investasi yang diperhitungkan kolektor dunia. Namun begitu, lebih dari sekadar angka di atas kertas lelang, keaslian dan kelangkaan naskah-naskah ini adalah harta karun budaya. Buat para pecinta buku, memiliki satu karya berharga tentu bukan soal gengsi semata melainkan soal menjaga sejarah agar tetap hidup. Sampai generasi mendatang masih bisa menyentuhnya, merasakannya.
(Fany Wirda Putri)
Artikel Terkait
Sebagian Besar Lansia, Jemaah Haji Gelombang Pertama Diminta Jaga Kesehatan dan Kurangi Aktivitas di Madinah
Komisi VIII DPR Dorong Kontrak Jangka Panjang Katering Haji demi Efisiensi dan Cita Rasa Nusantara
Indonesia Peringkat Kedua Negara Paling Tangguh Hadapi Krisis Energi Global 2026, Golkar: Buah Kerja Keras Pemerintah
Bareskrim Tangkap Istri dan Dua Anak Bandar Narkoba Ko Erwin di Sumbawa