Jakarta - Kalau bicara soal daya tarik pariwisata, kuliner seringkali jadi ujung tombaknya. Tapi Kementerian Pariwisata punya catatan penting: keamanan pangan tak bisa diabaikan. Di sini, kompetensi para penjamah makanan, atau food handler, disebut-sebut sebagai faktor kunci. Bukan cuma untuk menjamin keamanan, tapi juga buat mengerek daya saing pariwisata nasional kita.
Nah, momentum Hari Kartini kemarin dipakai Kemenpar buat soroti hal ini. Mereka mendorong peningkatan kualitas SDM di bidang gastronomi, dengan fokus kuat pada aspek higienitas. Ini sekaligus jadi refleksi, lho, tentang peran strategis perempuan dalam mengembangkan wisata kuliner Indonesia.
Menurut I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, Asisten Deputi Bidang Manajemen Strategis Kemenpar, penguatan SDM itu elemen yang krusial. Kenapa? Karena gastronomi punya kontribusi besar banget terhadap pengalaman wisatawan dan reputasi sebuah destinasi.
“Kompetensi penjamah makanan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap keamanan pangan, baik di restoran, street food, maupun hotel,” tegas Dewi, Rabu (22/4).
Oleh karena itu, pelatihan soal higiene personal, sanitasi fasilitas, sampai penanganan makanan yang aman harus jadi prioritas utama. Tanpa itu, reputasi bisa runtuh seketika.
Di sisi lain, ada aspek lain yang juga nggak kalah penting: keberlanjutan. Dewi menambahkan, SDM gastronomi sekarang perlu dibekali pemahaman tentang hal ini sebagai bagian dari transformasi industri hospitality global. Ini bukan cuma soal pakai bahan lokal, tapi juga efisiensi energi, kelola limbah, kurangi food waste, dan praktik ramah lingkungan.
“Integrasi antara higienitas dan keberlanjutan akan menghasilkan produk kuliner yang tidak hanya aman, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan,” katanya.
Pendekatan ini diyakini bakal beri dampak luas. SDM yang kompeten dan punya kesadaran tinggi akan mendorong destinasi gastronomi Indonesia bersaing di level global. Pengalaman kuliner yang ditawarkan pun diharapkan bisa autentik, aman, dan berstandar internasional.
Sebelumnya, Kemenpar sudah menggelar diskusi strategis bertajuk “Peran Perempuan dalam Strategi Pengembangan Wisata Gastronomi Indonesia” di Politeknik NHI Bandung, awal April lalu. Dari sana, makin jelas bahwa momentum Hari Kartini ini menegaskan peran vital perempuan sebagai penggerak utama dalam rantai nilai gastronomi dari produksi, pengolahan, sampai penyajian.
Faktanya, peran perempuan dalam pariwisata memang sangat signifikan. Sekitar 64% wisatawan dunia adalah perempuan, dan 80% keputusan perjalanan ditentukan oleh mereka. Dari sisi ketenagakerjaan, perempuan menyumbang sekitar 54,5% tenaga kerja pariwisata di Indonesia dan mengelola mayoritas UMKM, termasuk di sektor kuliner.
Menegaskan hal itu, Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi, Kurleni Ukar, menyebut perempuan adalah fondasi utama.
“Perempuan menjadi penggerak sektor, menjaga pengetahuan lokal, dan menopang keberlanjutan dari hulu hingga hilir,” ujar Kurleni.
Penguatan kapasitas perempuan di sektor ini, akhirnya, bukan cuma soal kesetaraan. Ini adalah strategi untuk mempercepat transformasi pariwisata yang lebih inklusif dan benar-benar berkelanjutan ke depannya.
Artikel Terkait
Sidang Korupsi Chromebook Nadiem Ditunda, Terdakwa dan Pengacara Absen
Harga Minyak Goreng di Pasar Peterongan Naik, Didorong Kenaikan Biaya Kemasan
Polisi Bongkar Komplotan ATM, Modus Ganjal Kartu Rugikan Korban Rp274 Juta
iCAR V23 Luncurkan Mobil Listrik dengan Sistem Kendali Cerdas Berbasis Chip Snapdragon