Manchester City sedang melaju kencang. Ibarat pembalap yang sudah memasuki gigi tertinggi, mereka siap menikung saingan terdekatnya. Laga tunda melawan Burnley di Turf Moor, Kamis dini hari nanti, bukan sekadar pertandingan biasa. Bagi Erling Haaland dan kawan-kawan, ini adalah peluang emas untuk merebut puncak klasemen dari cengkeraman Arsenal.
Peluang itu terbuka lebar. City hanya terpaut tiga poin, dan punya satu pertandingan lebih sedikit. Kemenangan akan membuat mereka setara, bahkan bisa langsung melompat ke posisi pertama jika menang dengan selisih dua gol. Secara matematis, semuanya sangat mungkin.
Modal mereka pun kuat. Bahkan, sangat kuat. Lihat saja catatan pertemuan: dari 15 laga terakhir melawan Burnley di Liga Primer, City menang 14 kali. Agregat golnya? Sangat telak, 45-6 untuk keunggulan City. Mereka bahkan menang 11 kali beruntun. Statistik itu bicara dengan sangat jelas.
Di sisi lain, kondisi Burnley jauh dari menggembirakan. Mereka masih terperosok di zona merah, berjuang menghindari degradasi. Sementara performa tandang City belakangan ini sungguh impresif. Sejak Desember, tak ada tim lain yang mengumpulkan poin lebih banyak di laga tandang selain mereka.
Momentum City di akhir musim juga selalu menakutkan. Di bawah Pep Guardiola, mereka seperti tim yang berbeda ketika bulan April tiba. Sejak 2021, rekor mereka di bulan penentuan ini hampir sempurna: 30 kemenangan dan cuma tiga seri. Rasio kemenangan Guardiola di April mencapai 71,4%. Angka-angka itu menjelaskan mengapa City dijuluki "monster" di fase krusial.
Meski begitu, Guardiola sendiri tak mau gegabah. Dia menekankan bahwa fokus adalah kunci mutlak.
“Kami masih berharap. Tapi kenyataannya kami belum di posisi teratas. Kami memperpanjang peluang untuk bertarung sampai akhir,” ujar Guardiola seperti dikutip BBC.
“Klasemen tidak berbohong. Kami kompetitif dan tidak boleh kehilangan fokus," imbuhnya.
Angin memang mulai berubah. Data dari Opta menunjukkan pergeseran probabilitas yang signifikan. Peluang Arsenal juara liga, yang semula 97%, kini merosot ke 73%. Sebaliknya, peluang City melonjak menjadi 27%. Perubahan itu bukan tanpa alasan.
Namun begitu, jalan menuju trofi masih panjang. Jadwal sisa Arsenal terlihat lebih ringan. Bahkan jika kedua tim menang di semua laga tersisa, gelar kemungkinan besar akan ditentukan oleh selisih gol. Situasi ini memantik beragam analisis dari para pengamat.
Eks gelandang Liverpool, Danny Murphy, contohnya, merasa momentum ada di tangan City.
“Saya rasa ini sedikit condong ke City. Momentum dan kepercayaan diri mereka sedang tinggi. Kedua tim kemungkinan besar akan menang terus, tapi City bisa unggul lewat selisih gol,” kata Murphy.
Pendapat serupa datang dari Gary Neville. Mantan bek Manchester United itu melihat City seperti kereta api yang sulit dihentikan. Mereka sudah terbiasa menang di momen-momen besar.
Tapi tidak semua sepakat. Wayne Rooney punya pandangan berbeda. Mantan striker Manchester United itu justru masih menjagokan Arsenal.
“Perburuan gelar belum selesai. Mungkin masih akan ada kejutan. Saya melihat Arsenal masih sedikit lebih difavoritkan, mungkin menang dengan selisih dua poin,” ucap Rooney.
“Di fase ini, semuanya soal siapa yang paling bisa menjaga ketenangan. Itu yang akan menentukan juara," tambahnya.
Jadi, pertarungan masih panas. Setiap laga, setiap gol, akan berarti. City punya statistik dan momentum, tapi Arsenal masih memegang kendali. Tinggal menunggu waktu, siapa yang akhirnya bisa bertahan sampai garis finish.
Artikel Terkait
Laporta Beri Lampu Hijau, Barcelona Incar Rafael Leão dengan Tawaran 50 Juta Euro
Kejari Cimahi Geledah Disnaker Terkait Dugaan Korupsi Pelatihan 2022-2024
Wali Kota Makassar Ancam Copot Kepala Sekolah yang Paksa Iuran untuk Acara Perpisahan
Polri Bongkar Mafia BBM Subsidi, Rugikan Negara Rp243 Miliar dalam 13 Hari