Masyarakat di sekitar Gunung Marapi, Sumatra Barat, diminta untuk tetap waspada. Peringatan ini datang langsung dari Badan Geologi, Kementerian ESDM, yang menyoroti ancaman tak kasat mata: gas vulkanik beracun yang masih berpotensi muncul di area kawah.
Lana Saria, Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, menegaskan hal itu dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Padang, Selasa (21/4/2026).
"Di area kawah atau puncak Gunung Marapi juga terdapat potensi bahaya dari gas-gas vulkanik beracun,"
Pernyataan itu didasarkan pada hasil evaluasi aktivitas gunung selama paruh pertama April 2026. Menurut evaluasi tersebut, setidaknya ada empat jenis gas berbahaya yang mesti diantisipasi. Mulai dari Karbon Dioksida (CO2), Karbon Monoksida (CO), lalu ada juga Sulfur Dioksida (SO2) dan Hidrogen Sulfida (H2S). Gas-gas itu bisa mematikan, terutama di area terbatas dekat puncak.
Gunung dengan ketinggian 2.891 mdpl ini memang belum sepenuhnya tenang. Statusnya masih bertahan di Level II atau Waspada. Karena itu, sejumlah rekomendasi pun dikeluarkan untuk keselamatan warga.
Jika hujan abu terjadi, misalnya, masyarakat diimbau untuk segera mengenakan masker. Tujuannya jelas: melindungi hidung dan mulut dari partikel halus yang bisa memicu infeksi saluran pernapasan (ISPA).
Gunung Marapi meletus pada Kamis pagi dengan tinggi kolom abu mencapai 1,6 kilometer di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Kamis, 16 April 2026. Antara/HO-Tagana Padang Panjang
Larangan yang lebih ketat juga diberlakukan. Badan Geologi bersama Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi di Bukittinggi secara tegas melarang siapa pun baik pendaki, wisatawan, atau warga untuk memasuki radius tiga kilometer dari Kawah Verbeek. Itu adalah zona berbahaya, titik pusat aktivitas gunung saat ini.
Di sisi lain, bagi mereka yang tinggal di daerah lereng, imbauannya berbeda. Masyarakat yang rumahnya berada di dekat lembah atau aliran sungai yang berhulu di Marapi harus terus siaga. Ancaman banjir lahar, terlebih di musim hujan, tetap nyata dan perlu diwaspadai.
Evaluasi tingkat aktivitas gunung ini akan terus dilakukan secara berkala. Perubahan status bisa saja terjadi jika ada perkembangan signifikan. Intinya, meski terlihat lebih tenang, Marapi belum sepenuhnya tidur. Kewaspadaan adalah kunci.
Artikel Terkait
Kapolri Ingatkan Brimob Soal Dampak Konflik Global Terhadap Stabilitas Energi Indonesia
Polri Serahkan 378 Rumah Subsidi dan Lahan untuk Brimob di Sulawesi Tenggara
KPK Ungkap Peran Krusial Circle Terdekat dalam Jaringan Korupsi
Polres Jakpus Beri Penghargaan ke Warga dan Personel Atas Sinergi Ungkap Narkoba