Indonesia sudah melalui banyak sekali badai. Krisis ekonomi, politik, kepercayaan, bahkan pemberontakan. Semua pernah menghantam. Tapi, menurut Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW), bangsa ini selalu punya cara untuk bertahan. Kuncinya? Pengamalan Pancasila yang nyata.
Jadi, soal potensi gejolak global akibat ketegangan Amerika-Israel dengan Iran, itu bukan hal yang sama sekali asing. Bukan ancaman baru pertama kali. Menurut HNW, selama kita berpegang teguh pada ideologi yang digali dari bumi sendiri, kita akan bisa melaluinya lagi.
“Tetapi karena para tokoh bapak bangsa, baik yang religius maupun nasionalis, sepakat untuk mengakui dan menerima Pancasila sebagai ideologi bersama, maka selamatlah Indonesia,” tegas HNW.
Ia mengingatkan, sejak awal perumusannya, Pancasila sudah melibatkan tokoh dari berbagai latar. Dari kalangan Islam seperti Abdul Kahar Muzakir, H Agus Salim, dan Wachid Hasjim, hingga tokoh Kristiani seperti AA Maramis. Mereka duduk bersama dalam Panitia 9.
“Dan demi kesatuan negara dan keselamatan bangsa, para tokoh Islam itu juga rela menghilangkan tujuh kata pada sila pertama dalam Piagam Jakarta,” sambungnya.
Pengorbanan itu, kata HNW, adalah bukti nyata komitmen untuk persatuan. Hasilnya? Sila pertama menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, seperti yang kita kenal sekarang.
Pernyataan ini disampaikannya dalam Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara di Pangkalpinang, Sabtu lalu. Forum itu menggandeng DPW PKS Bangka Belitung, mengusung tema ketahanan nasional melalui nilai-nilai Pancasila.
Di sisi lain, HNW mengajak kita melihat sejarah negara lain. Ambil contoh Uni Soviet. Negara adidaya dengan militer kuat. Tapi kini? Lenyap. Terpecah jadi 15 negara sejak 1991.
Kenapa bisa terjadi? Salah satu sebabnya, ideologi komunisme yang mereka anut diimpor dari luar. Tidak mengakar. Tidak tumbuh dari kebudayaan mereka sendiri. Krisis ekonomi dan kegagalan reformasi politik akhirnya menghancurkan mereka.
Nasib serupa menimpa Yugoslavia. Negara yang dulu terdiri dari lima etnis dan tiga agama besar itu, sekarang sudah tidak ada. Pecah menjadi tujuh negara merdeka seperti Slovenia, Kroasia, dan Serbia. Konflik etnis dan nasionalisme sempit merobek-robeknya.
Nah, bandingkan dengan Indonesia. Negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan ratusan suku. Rentan sekali perpecahan. Tapi kita masih utuh.
“Kalau kita tidak mempunyai ideologi yang tumbuh kembang dari Indonesia sendiri, maka kasus Uni Soviet dan Yugoslavia bisa terjadi,” ungkap HNW.
“Tapi kita tetap kokoh dan kuat karena mempunyai ideologi yang menyatukan kita semua. Ideologi ini tumbuh dari dalam,” sambungnya.
Ia pun menyebut deretan nama tokoh Islam yang terlibat. Dari Muhammadiyah ada KH Kahar Muzakir dan Ki Bagus Hadi Kusumo. Dari NU ada KH Wahid Hasyim. Dari PUI ada KH Abdul Halim. Dari Partai Syarikat Islam ada Haji Abi Kusno Cokrosuyoso. Mereka semua bersepakat merajut dasar negara.
Lebih dari 80 tahun, Pancasila berhasil mengamankan persatuan. Bahkan menghadapi krisis sehari-hari sekalipun, masyarakat punya mekanisme sendiri. Lucunya, HNW memberi contoh yang ringan.
“Apalagi krisis yang sekarang terjadi masih berbentuk naiknya harga BBM, plastik dan kedelai. Jangan lupa, warga Indonesia itu pintar. Tidak menaikkan harga kedelai tidak menaikkan harga tempe, tapi bentuk tempenya saja diperkecil,” ujarnya sambil tertawa.
Artinya, ada kreativitas dan ketahanan di level akar rumput. Namun, peran politik tetap krusial. HNW menegaskan partai politik, khususnya partai Islam, harus berada di garda terdepan. Menyatukan bangsa dengan Pancasila, seperti yang dilakukan para pendahulu.
Bukti kontribusi itu nyata. Istilah ‘adil’ dan ‘rakyat’ dalam Pancasila, menurutnya, diserap dari ungkapan khas Al-Qur'an dan hadis. Bukan sekadar kata dalam Bahasa Melayu.
Belum lagi peran Masyumi melalui Mosi Integral Natsir tahun 1950 yang berjasa mengembalikan bentuk negara menjadi NKRI. “Kalau itu tidak terjadi, barangkali generasi muda tidak mengenal NKRI,” katanya.
Karena itu, di tengah ancaman krisis global sekarang, HNW berharap umat Islam dan organisasinya tidak dipinggirkan. Justru harus dipercaya kembali menjadi bagian dari solusi.
“Sudah sewajarnya bila umat Islam, ormas Islam hingga partai Islam... dipercaya untuk kembali menjadi garda terdepan turut menyelesaikan krisis yang kita hadapi, termasuk krisis-krisis akibat perang di Timur Tengah,” pungkas HNW.
Artikel Terkait
Pakar Hukum Soroti Pasal Bermasalah dalam RUU Perampasan Aset
Presiden Brasil Lula Kritik PBB Gagal Hentikan Konflik Global di Tengah Pameran Hanover
Tamu Hotel di Gunung Sahari Curi Uang dan Dokumen Saat Resepsionis Sarapan
Hujan Deras di Bogor Picu 17 Titik Bencana, Rumah Tertimpa Longsor