Wamen Sosial: Pengelola Perpustakaan Sekolah Rakyat Harus Jadi Motor Gerakan Literasi

- Sabtu, 18 April 2026 | 20:20 WIB
Wamen Sosial: Pengelola Perpustakaan Sekolah Rakyat Harus Jadi Motor Gerakan Literasi

Di Novotel BSD City, Tangerang, acara pelatihan untuk pengelola perpustakaan Sekolah Rakyat baru saja berakhir. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono hadir memberikan penekanan khusus. Pesannya jelas: peran mereka jauh lebih dari sekadar menata rak buku.

“Tidak hanya melayani info pustaka,” tegas Agus Jabo, Sabtu (18/4/2026).

“Tapi bagaimana saudara-saudara kemudian bisa memobilisasi dan mengubah mindset anak-anak yang tadinya tidak gemar membaca, menjadi gemar membaca dan perpustakaan menjadi aktivitas utama.”

Ucapan itu disampaikannya di hadapan sekitar 127 peserta Batch 3 pelatihan tingkat lanjut itu. Intinya, para pengelola dituntut kreatif. Mereka harus jadi motor penggerak, mengubah pola pikir siswa.

Menurut Agus Jabo, ini sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto mendirikan Sekolah Rakyat. Tujuannya untuk mencetak generasi pintar, berkarakter, dan terampil. Yang paling utama, mampu memutus rantai kemiskinan. Nah, kunci awalnya ada di literasi. Membaca.

“Ini yang harus kita kerjakan,” ungkapnya.

“Supaya mobilitas anak-anak untuk ke perpustakaan tinggi karena ada kesadaran yang ditransfer dari para pengelola, para guru... bahwa literasi menjadi hal yang sangat mendasar.”

Baginya, membaca ibarat lentera. Mengubah kegelapan jadi terang benderang. Tapi, tugas pengelola tak berhenti di situ. Di sisi lain, mereka juga punya peran membangun jati diri kebangsaan para siswa.

Harapannya, koleksi perpustakaan nantinya kaya akan literatur sejarah perjuangan pahlawan. Dengan begitu, anak-anak Sekolah Rakyat tak cuma cerdas secara akademis. Karakter nasionalisme dan kecintaan pada Tanah Air juga akan tertanam kuat.

“Kita berharap dari Sekolah Rakyat ini 10 tahun, 20 tahun ke depan mereka sudah menjadi pemimpin-pemimpin bangsa hebat,” tutur Agus Jabo.

“Yang tidak hanya mengubah keluarganya dari kemiskinan menjadi makmur. Tetapi juga menjadi pelopor pemimpin bangsa Indonesia untuk menjadikan bangsa yang bangkit, besar, adil dan makmur.”

Semua cita-cita mulia itu, menurutnya, berawal dari perpustakaan. Tempat itu harus jadi sentra kegiatan, ruang yang hidup. Untuk itu, sarana prasarananya perlu ideal. Buku-buku yang bagus dan berkualitas wajib disediakan. Tujuannya sederhana: agar anak-anak betah, "enjoy" menghabiskan waktu di sana.

Terakhir, Agus Jabo berpesan agar para pengelola sendiri harus mencintai dunia baca. Mereka perlu terus mengasah kemampuan dengan profesionalisme.

“Profesional definisinya kalau yang saya pahami, yang dipikirkan ya itu apa yang menjadi tugasnya dengan senang hati, dengan ikhlas,” pungkasnya.

“Jadi kalau bapak-bapak dan ibu-ibu sebagai petugas pengelola perpustakaan, ya cintai itu. Itu yang harus menjadi pikiran utama. Itu yang dinamakan profesional.”

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar