UNESCO Tetapkan Rabat sebagai Ibu Kota Buku Dunia 2026

- Sabtu, 18 April 2026 | 15:45 WIB
UNESCO Tetapkan Rabat sebagai Ibu Kota Buku Dunia 2026

Jakarta - Buku itu seperti jendela. Lewat setiap halamannya, kita diajak bertemu orang-orang baru, menyelami budaya yang berbeda, dan menyerap ide-ide segar. Nah, setiap tanggal 23 April, UNESCO punya cara khusus untuk menghormati kekuatan buku itu: mereka merayakan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Momen ini diakui sebagai pengakuan bahwa buku mampu jadi jembatan yang menghubungkan generasi dan budaya.

Dalam perayaan itu, ada satu hal yang cukup menarik perhatian. UNESCO, bersama organisasi perbukuan internasional, setiap tahunnya memilih satu kota untuk dinobatkan sebagai Ibu Kota Buku Dunia. Kota terpilih punya tugas mulia: mempromosikan buku dan budaya membaca ke semua kalangan, baik di dalam negerinya sendiri maupun ke mata dunia.

Untuk tahun 2026, sudah ada kota yang ditetapkan. Audrey Azoulay, Direktur Jenderal UNESCO, mengumumkan bahwa Rabat di Maroko lah yang mendapat kehormatan tersebut. Penetapan ini berdasarkan rekomendasi dari Komite Penasihat Ibu Kota Buku Dunia.

Menurut UNESCO, Rabat dipilih karena komitmennya yang kuat. Kota ini dinilai serius dalam mengembangkan literasi, memberdayakan perempuan dan pemuda lewat membaca, serta berupaya memberantas buta huruf terutama di komunitas yang kurang beruntung.

Sebagai Ibu Kota Buku Dunia, Rabat tak sekadar dapat gelar. Mereka akan meluncurkan serangkaian program nyata. Tujuannya jelas: mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan memberi manfaat sosial dengan cara memperluas akses terhadap buku. Mereka juga akan mendukung industri penerbitan lokal. Salah satu inisiatif besarnya adalah memperkuat literasi bagi seluruh warganya.

Rangkaian acara perayaan ini rencananya akan dimulai tepat pada 23 April 2026. Ya, bertepatan dengan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia itu sendiri.

Lalu, Sebenarnya Apa Sih Program Ibu Kota Buku Dunia Itu?

Buku dan bercerita adalah warisan bersama umat manusia. Keduanya adalah alat yang luar biasa untuk melatih daya kritis, refleksi, dan bahkan emansipasi. Sebagai gudang kearifan, buku meningkatkan kesadaran kita akan keragaman budaya dan menjembatani zaman.

Nah, karena percaya betul pada potensi pemberdayaan dari buku, UNESCO meluncurkan inisiatif ini pada 2001. Setiap tahun, satu kota ditunjuk sebagai 'ibu kota' buku. Kota-kota ini didedikasikan untuk mendorong literasi, pembelajaran sepanjang hayat, serta melindungi hak cipta dan kebebasan berekspresi.

Sepanjang tahun masa jabatannya, kota yang terpilih akan menggelar beragam kegiatan. Aktivitas ini dirancang untuk memperkuat peran buku dalam pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Intinya, mereka bekerja sama untuk memasukkan literasi ke dalam kebijakan dan memastikan kesempatan membaca dan menulis yang setara bagi semua orang.

Di sisi lain, dampaknya seringkali melampaui buku itu sendiri. Ambil contoh Medellín, yang ditunjuk untuk 2027. Kota di Kolombia ini sudah jadi rujukan internasional soal transformasi perkotaan berbasis budaya. Di sana, buku dan perpustakaan memainkan peran kunci dalam menciptakan perubahan sosial yang positif. Penunjukannya mengirimkan pesan kuat: budaya bisa membangun perdamaian dan memperkuat kohesi sosial.

Jadi, program ini bukan cuma seremonial. Ia tentang aksi nyata. Dari Madrid yang pertama pada 2001, hingga Rabat di 2026, dan Medellín setelahnya, semuanya punya misi yang sama: membuat buku benar-benar hidup di tengah masyarakat.

(kny/zap)

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar