Wisuda Haru ITS, Ijazah dan Janji untuk Alumni yang Gugur Saat Mengabdi

- Sabtu, 18 April 2026 | 11:35 WIB
Wisuda Haru ITS, Ijazah dan Janji untuk Alumni yang Gugur Saat Mengabdi

Suasana di Graha ITS, Sabtu (18/4/2026) lalu, terasa berbeda. Di tengah sukacita wisuda ke-133 kampus itu, ada duka yang mengendap. Acara itu tak hanya untuk para lulusan yang hadir, tetapi juga untuk mengenang Abdul Rohid, seorang alumni yang tak bisa menyaksikan momen ini.

Rohid seharusnya diwisuda September tahun lalu. Tapi dia memilih jalan lain: mengabdi. Dia bergabung dengan Tim Ekspedisi Patriot di kawasan Tomini Raya, Sulawesi Tengah, sebuah pengabdian yang akhirnya merenggut nyawanya.

Keluarga Rohid hadir sejak awal. Mereka duduk di barisan depan, mata tak henti berkaca-kaca, terutama saat doa pembuka dibacakan. Seorang adik lelaki memegang erat foto sang kakak, seolah membawanya hadir dalam ruangan itu.

Dalam sambutannya, Rektor ITS Prof Bambang Pramujati menyampaikan penghormatan mendalam. Suaranya berat, penuh respek.

"Kami menghaturkan penghormatan kepada almarhum. Dia telah memberi kita keteladanan: berdedikasi, berkontribusi, dan memberi dampak terbaik hingga akhir hayatnya," ujar Bambang.

Prosesi penyerahan ijazah pun berlangsung haru. Ijazah Rohid diserahkan oleh Rektor dan Menteri Transmigrasi, M Iftitah Sulaiman Suryanagara, langsung kepada keluarga yang ditinggalkan.

Namun begitu, ada hal lain yang lebih menyentuh. Iftitah kemudian membagikan pesan terakhir Rohid yang sederhana namun menghujam.

"Almarhum meninggalkan satu keinginan yang dalam," kata Iftitah.

Keinginan itu ternyata sangat personal. Pertama, Rohid ingin menyekolahkan adiknya hingga jadi sarjana. Mendengar itu, Iftitah langsung menjanjikan beasiswa penuh untuk sang adik. ITS pun berkomitmen menjembatani pendidikannya kelak.

Keinginan kedua justru untuk orang tuanya. Rohid bercita-cita memberangkatkan mereka berumrah. Lagi-lagi, Iftitah menyatakan kesanggupannya mewujudkan mimpi anak yang berbakti itu.

"Insyaallah kami akan bantu. Ini semua bukan balasan, karena jasanya tak terbalaskan. Ini bentuk penghormatan kita semua, atas cinta seorang anak kepada orang tuanya," pungkas Iftitah, menutup sambutannya.

Acara wisuda itu pun berakhir dengan kesan mendalam. Di satu sisi, ada tawa dan sorak sorai kelulusan. Di sisi lain, ada air mata, kenangan, dan janji yang harus ditepati untuk seorang pahlawan yang pergi terlalu cepat.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar