Iran Klaim Kerugian Perang Capai US$270 Miliar, Siapkan Tuntutan Hukum

- Rabu, 15 April 2026 | 21:15 WIB
Iran Klaim Kerugian Perang Capai US$270 Miliar, Siapkan Tuntutan Hukum

SEMARANG Kerugian yang diderita Iran akibat perang melawan AS dan Israel ternyata sangat besar. Pemerintah di Teheran baru-baru ini mengungkap angka perkiraannya: mencapai US$270 miliar. Sebuah nilai yang fantastis, dan disebutkan masih bersifat awal.

Juru bicara Iran, Fatemeh Mohajerani, menyatakan hal itu menjadi salah satu fokus utama tim negosiasi mereka. "Salah satu isu yang diupayakan tim negosiasi kami, dan yang juga diupayakan dalam pembicaraan di Islamabad, adalah isu ganti rugi perang," ujarnya, seperti dikutip dari laman Tasnim, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, angka sebesar itu masih hitungan kasar. "Angka awal dan sangat kasar memperkirakan kerugian sejauh ini mencapai US$ 270 miliar," tambah Mohajerani.

Namun begitu, pemerintah Iran tidak berhenti di situ. Otoritas ekonomi mereka berencana melakukan penghitungan yang lebih detail dan akurat melalui proses bertahap. Rencananya, akan ada penilaian menyeluruh terhadap kerusakan fisik bangunan. Setelah itu, baru dilanjutkan dengan analisis mendalam soal kerugian pendapatan negara serta dampak menghentikan operasi industri.

Di sisi lain, Iran tampaknya tak hanya berhenti pada hitungan angka. Mereka bersikeras akan menempuh segala jalur hukum untuk menuntut pertanggungjawaban atas kerusakan dan korban jiwa yang berjatuhan. Tuntutan kompensasi itu juga menyasar insiden-insiden memilukan, seperti serangan mematikan pada sebuah sekolah dasar di Kota Mina yang menewaskan sekitar 170 orang.

"Kami pasti akan membela hak-hak rakyat kami melalui jalur hukum, termasuk kompensasi atas pertumpahan darah orang-orang terkasih kami di sekolah Minab," tegas juru bicara tersebut.

Eskalasi konflik ini sendiri terus memanas. Puncaknya adalah serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari 2026 lalu yang menimbulkan korban ribuan jiwa. Sebagai balasan, Iran tak tinggal diam. Mereka melancarkan serangan balik ke Israel, Irak, Yordania, dan beberapa negara Teluk yang dianggap menyimpan aset militer AS. Langkah lebih jauh lagi, Teheran bahkan menutup akses pelayaran di Selat Hormuz.

Kondisi terbaru justru semakin suram. Negosiasi untuk gencatan senjata antara Iran dan AS dikabarkan menemui jalan buntu. Kegagalan ini memicu ketegangan baru. Presiden AS Donald Trump disebut telah menginstruksikan Angkatan Lautnya untuk memblokade Selat Hormuz, sebuah langkah yang jelas memperbesar tekanan terhadap Iran.

Situasinya kini benar-benar genting. Sementara angka kerugian material terus dihitung, korban jiwa dan dendam politik kian menumpuk, membuat jalan menuju perdamaian terlihat semakin panjang dan berliku.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar