Korupsi lagi. OTT lagi. Capek, kan, mendengar berita yang itu-itu saja? Bosan membahasnya? Pasti.
Tapi apa mau dikata. Pelakunya sendiri tak pernah bosan. Malah, yang bikin muak, pelakunya sering berasal dari kalangan yang sama: kepala daerah. Seperti rekaman rusak yang diputar berulang. Alurnya gampang ditebak, tokohnya seragam, dan adegan puncaknya selalu mirip: berpose pakai rompi oranye di depan gedung KPK, sesekali tersenyum ringan ke kamera.
Yang terbaru, giliran Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, yang dicokok KPK. Dia diduga terlibat pemerasan dan penerimaan uang di lingkungan pemerintah kabupatennya. Seakan tak mau ketinggalan, dia menyusul lima kepala daerah lain yang sudah lebih dulu ditangkap sejak awal tahun 2026. Ada Bupati Pati, Wali Kota Madiun, Bupati Pekalongan, Bupati Rejang Lebong, dan Bupati Cilacap. Mirip lomba, tapi lomba yang memalukan.
Melihat tren ini, jujur saja, korupsi kepala daerah sudah bukan fenomena biasa. Ini lebih mirip parasit. Bayangkan sebuah rawa. Di permukaan, terlihat hijau oleh eceng gondok, indah dipandang. Itulah saat mereka berkampanye. Tapi di balik itu, akarnya menjerat, menyumbat aliran air bersih yang seharusnya sampai ke masyarakat. Dicabut satu, tumbuh lagi yang lain. Begitu seterusnya.
Atau, ibarat arisan warga saja. Gilirannya dikocok, dan yang dapat ya bergantian. Lama-lama, korupsi dianggap bukan dosa besar, melainkan sekadar ‘risiko jabatan’. Nasib sial belaka.
Ilustrasi korupsi. Dok. MI
Lalu, kenapa ini terus terjadi? Analisisnya sudah banyak. Biaya politik yang gila-gilaan, sistem pengawasan yang lembek, atau sekadar keserakahan dan integritas yang rendah. Tapi ada satu hal yang sering luput: sikap kita sendiri sebagai masyarakat.
Artikel Terkait
Taman Fatahillah Ditutup Sementara untuk Ibadah Paskah, Museum Tetap Buka
Iran Tuntut Kompensasi US$270 Miliar dari AS, Israel, dan Lima Negara Tetangga
Petugas KRL Manggarai Dapat Penghargaan Usai Hadapi Penumpang Nekat Masuk Gerbong
Dedi Mulyadi Apresiasi Nelayan Malang Penyelamat Hiu Paus