Gubernur Jateng Serahkan Bantuan Rp 236,9 Miliar dan Tegaskan Penanganan Banjir Harus Komprehensif

- Sabtu, 04 April 2026 | 14:30 WIB
Gubernur Jateng Serahkan Bantuan Rp 236,9 Miliar dan Tegaskan Penanganan Banjir Harus Komprehensif

Suasana di tempat pengungsian itu cukup memilukan. Ruang utama gedung dipenuhi warga. Ada yang berbaring lelah di atas alas seadanya, sementara yang lain duduk lesu di teras, menatap jauh. Mereka menunggu, berharap kondisi di rumah masing-masing segera membaik.

Gubernur Luthfi pun hadir di tengah mereka. Ia menyapa, berdialog, dan tak lupa menyerahkan bantuan secara simbolis. Bantuan itu sendiri bukan jumlah kecil. Totalnya mencapai Rp 236,9 miliar lebih, dikumpulkan dari berbagai dinas di lingkungan Pemprov Jateng mulai dari BPBD, Dinas Sosial, hingga Dinas PUPR dan PMI. Angka itu menunjukkan skala respons yang coba diberikan.

Namun begitu, Luthfi tahu bantuan saja tak cukup. Usai menyapa warga, ia langsung menggelar rapat terbatas. Bupati Demak, Eisti'anah, beserta jajarannya turut hadir. Agenda utamanya jelas: mencari solusi yang tak sekadar tambal sulam.

"Kita mengatasi banjir ini tidak bisa parsial," tegas Luthfi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu lalu.

Pendekatannya harus komprehensif. "Dari hulu sampai hilir itu harus dituntaskan," imbuhnya.

Di sisi lain, di tengah upaya penanganan menyeluruh itu, urusan mendesak tak boleh terlupakan. Kebutuhan dasar warga yang terdampak harus tetap jadi prioritas utama.

"Prinsipnya layanan dasar kepada masyarakat terdampak harus terpenuhi," ujar Luthfi. "Mulai sekolah, kesehatan, bahan pokok, makanan, dan lain sebagainya tidak boleh ketinggalan."

Di antara sekian banyak pengungsi, ada Musri'ah, warga Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur. Ia mengungsi karena rumahnya tak lagi bisa ditinggali. Menurut ceritanya, semuanya terjadi begitu cepat.

"Kejadiannya sekitar pukul 10.00 WIB, saya di rumah," kenang Musri'ah.

Air datang tiba-tiba dengan derasnya, menerobos tanggul yang akhirnya jebol juga. Tak ada waktu untuk menyelamatkan banyak barang.

Menjelang sore, situasi makin parah. Ketinggian air terus naik, memaksa evakuasi menggunakan perahu.

"Setelah Asar kami dijemput perahu," ujarnya, menggambarkan kepanikan saat itu. "Waktu itu airnya udah setinggi dada."

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar