Menteri Pertahanan AS, Pete Hegesth, punya permintaan tegas untuk Jenderal Randy George: mundur saja. Atau pensiun. Itu inti dari permintaan yang disampaikan ke sang Kepala Staf Angkatan Darat, menurut seorang pejabat Pentagon yang mengetahui persoalan ini.
Konfirmasi datang tak lama setelahnya. Lewat sebuah unggahan di platform X, juru bicara Pentagon Sean Parnell menyatakan Jenderal Randy A. George akan pensiun dari jabatannya, efektif segera. "Departemen Perang berterima kasih atas pengabdian Jenderal George selama puluhan tahun kepada bangsa kita," tulis Parnell, seperti dilansir CNN. Pemberitaan awal soal pencopotan George ini sendiri pertama kali muncul dari CBS News, dan seorang pejabat lain di Departemen Pertahanan membenarkan laporan tersebut.
Langkah Hegseth ini terjadi dalam situasi yang cukup panas. Sehari sebelumnya, Presiden Donald Trump baru saja berpidato soal perang dengan Iran. Isinya berbelit. Di satu sisi, dia memberi sinyal serangan AS bakal ditingkatkan. Tapi di sisi lain, sebelumnya sempat ada isyarat bahwa perang bisa diakhiri dalam hitungan dua sampai tiga minggu. Suasana kebingungan itulah yang mengiringi keputusan kontroversial Hegseth.
Sebagai Kepala Staf, George dikenal punya hubungan kerja yang erat dengan Sekretaris Angkatan Darat, Dan Driscoll. Nah, Driscoll ini dianggap dekat dengan Gedung Putih dan rupanya dilihat Hegseth sebagai ancaman. Bukan kali ini saja Hegseth bertindak tegas; dia sudah mencopot sejumlah perwira senior lain selama masa jabatannya.
Jenderal George sendiri adalah perwira infanteri karier. Lulusan West Point 1988 ini baru menjabat sebagai Kepala Staf sejak September 2023. Sebelumnya, dia memimpin I Corps di Pangkalan Lewis-McChord, dan sempat menjadi asisten militer senior untuk Menteri Pertahanan era Biden, Lloyd Austin.
Lalu, Siapa Penggantinya?
Di kalangan internal militer dan Pentagon, spekulasi langsung mencuat. Nama yang paling sering disebut adalah Jenderal Chris LaNeve. Hegseth sebelumnya sudah mengangkat LaNeve menjadi Wakil Kepala Staf. Dengan latar belakang sebagai mantan asisten militer Hegseth, LaNeve dipastikan akan ditunjuk sebagai pelaksana tugas jika George benar-benar pergi.
Karir LaNeve cukup panjang. Dia mengabdi sejak 1990 setelah lulus dari program ROTC Universitas Arizona. Sebelum bekerja untuk Hegseth, dia adalah panglima Angkatan Darat ke-8 di Korea Selatan. Posisi itu diembannya setelah masa tugas yang relatif singkat sebagai komandan Divisi Lintas Udara ke-82 di Fort Bragg. Uniknya, komando di Divisi 82 biasanya dipegang selama dua tahun, tapi LaNeve meninggalkannya lebih cepat, lalu beralih menjadi asisten khusus untuk komandan di Komando Pasukan Angkatan Darat AS, sebelum akhirnya diterjunkan ke Korea.
Sosok LaNeve rupanya menarik perhatian Trump. Beberapa jam setelah pelantikan, LaNeve melakukan panggilan video dari Korea Selatan ke acara Commander in Chief's Ball.
"Pak, atas nama pria dan wanita pemberani yang bertugas di bawah komando saya dan ribuan anggota layanan yang berdedikasi di Korea, selamat atas kemenangan Anda sebagai Presiden Amerika Serikat ke-47," ucap LaNeve saat itu.
"Selamat datang kembali, Pak Presiden."
Trump pun menyambut hangat. Bahkan memuji penampilan LaNeve.
"Apakah pria ini terlihat seperti tokoh film atau bagaimana?" canda Trump, menurut transkrip resmi acara.
"Mereka tidak akan main-main dengan Anda. Itu bagus," tambahnya. "Saya senang melihat itu. Tidak ada yang berani main-main dengan pria itu."
Artikel Terkait
Hakim Pengadilan Tinggi Makassar Dipecat karena Terima Suap Rp1 Miliar untuk Atur Perkara Kasasi
Persija Jakarta Resmi Gunakan Bus Listrik untuk Armada Tim Mulai Liga Super 2026/2027
Gangguan Listrik di Jalur Commuter Line Duri–Tangerang Ganggu Perjalanan Sore Hari
Pemerintah Tetapkan Libur Idul Adha 2026 pada 27-28 Mei, Jumat 29 Mei Tetap Hari Kerja