NEW YORK Di tengah ketegangan yang terus memanas, Israel melontarkan tuduhan serius terhadap Hizbullah. Menurut mereka, kelompok itu dengan sengaja menjadikan pos-pos pasukan penjaga perdamaian PBB, UNIFIL, sebagai perisai dalam operasinya melawan Israel.
Danny Danon, Duta Besar Israel untuk PBB, yang menyampaikan langsung tuduhan ini dalam sidang Dewan Keamanan pada Selasa (1/4/2026). Suaranya tegas, penuh keyakinan.
“Kami sudah melihat ini akan terjadi,” ujar Danon, merujuk pada insiden yang menimpa pasukan penjaga perdamaian.
Dia menjelaskan bahwa Israel telah mengirim surat peringatan resmi kepada UNIFIL pada 22 Maret lalu. Isinya jelas: area di sekitar pos mereka berbahaya. Hizbullah, kata Danny, sengaja beroperasi di dekat posisi PBB. Akibatnya, pasukan penjaga perdamaian itu terpaksa berada di garis api langsung.
Namun begitu, sidang itu tidak hanya diwarnai oleh satu suara. Dari sisi lain, kecaman keras juga dilayangkan.
Duta Besar RI untuk PBB, Umar Hadi, mengambil sikap yang berbeda. Dalam forum yang sama, dia menyampaikan kecaman terhadap apa yang disebutnya sebagai serangan keji Israel di Lebanon. Pernyataannya menegaskan bahwa narasi di ruang sidang PBB selalu punya lebih dari satu sisi.
Konflik di perbatasan utara Israel ini memang rumit. Setiap pihak punya klaim dan buktinya sendiri. Dan di tengah semua itu, posisi pasukan penjaga perdamaian PBB seringkali terjepit, berada di antara dua api yang saling berhadapan.
Laporan-laporan dari lapangan kerap menyebutkan sulitnya membedakan antara kombatan dan warga sipil di daerah konflik. Situasi yang membuat misi perdamaian menjadi sangat rentan dan berisiko tinggi.
Editor: Joshua
Penulis: Theo-Reza
Sumber: Kompas TV
Artikel Terkait
Ketua Komisi III DPR Bela Penggunaan APBN untuk 1.098 Sapi Kurban Presiden: Tidak Langgar Hukum dan Syariat
Selebgram Woodyrman Jadi Tersangka Penganiayaan yang Tewaskan Warga Brunei di Blok M
Persona Prima Utama Buka 12 Formasi Pekerjaan Perbankan di 13 Wilayah Jawa Barat
MK Tegaskan Sanksi Gugurkan Parpol Jika Kuota Caleg Perempuan 30 Persen Tak Terpenuhi