“Masyarakat yang datang ke Pegadaian atau Galeri 24 malah banyak yang berniat untuk membeli, bukan menjual. Yang pertama kalua kami lihat adalah edukasi nasabah terkait investasi emas sudah mulai berubah dan membaik. Kalau zaman dulu harga emas naik orang pada berbondong-bondong ingin jual, tapi sekarang kebalikannya. Begitu harga naik orang banyak yang ingin membeli,” ujarnya, Senin, 2 Maret 2026.
Perubahan pola pikir itu tampaknya mulai mengakar. Kenaikan harga kini justru memicu minat beli, sebuah sinyal bahwa emas semakin dipandang sebagai instrumen investasi jangka panjang, bukan sekadar komoditas untuk dijual saat harganya mentok.
Namun begitu, tidak semua jenis emas bergerak sama. Di sisi lain, harga emas perhiasan dengan kadar 99 persen masih bertahan di kisaran Rp2.650.000 per gram. Relatif stabil, setidaknya untuk saat ini.
Pemilik toko emas, H. Lani, membenarkan hal itu.
“Kalau untuk harga set ini kami jual di harga Rp2.650.000. Harganya relatif,, masih stabil. Kalau semisal ada konflik, semisal covid seperti kemaren, pasti ada kenaikan harga,” katanya.
Jadi, apa yang terjadi? Ketegangan geopolitik jelas mendorong orang untuk memperkuat ‘pelindung’ portofolio mereka. Emas fisik jadi pilihan. Meski minat membeli menguat, ada imbauan untuk tetap tenang. Berinvestasilah dengan pertimbangan matang, jangan sekadar ikut arus panik atau euforia sesaat karena berita global. Sebab, pasar bisa berubah sewaktu-waktu.
Artikel Terkait
Perbasi Peringatkan Masyarakat Soal Maraknya Penipuan Atas Nama Organisasi
Gus Yahya Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran, Desak Indonesia Ambil Peran Mediasi
Gempa Magnitudo 5,0 dan 5,1 Guncang Maluku Barat Daya dan Laut Banda, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Trump Buka Kemungkinan Kirim Pasukan Darat ke Iran Jika Terpilih Kembali