Di sisi lain, ancaman lain yang tak kalah serius datang dari sektor ekonomi. Hasanuddin khususnya menyoroti potensi guncangan di pasar energi global. Seperti kita tahu, Iran pernah menunjukkan giginya dengan menutup Selat Hormuz jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia meski hanya beberapa jam. Itu sebuah gertakan yang membuat pasar gemetar.
"Bukan tidak mungkin Iran akan kembali menutup Selat Hormuz atau wilayah tersebut menjadi kawasan konflik bersenjata," jelasnya.
Dan jika skenario terburuk itu benar-benar terjadi, imbasnya langsung terasa: harga minyak dunia dipastikan melonjak tajam. Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak, situasi ini jelas bukan kabar baik. Dampak ekonominya bisa sangat serius, menambah beban yang sudah ada.
Jadi, konflik yang jauh di sana itu sebenarnya tidak benar-benar jauh. Rantai efeknya bisa sampai ke kita, entah lewat jalur politik atau kantong masyarakat.
Artikel Terkait
Polisi Fasilitasi Lomba Lari Malam di Cakung untuk Alihkan Energi Negatif Ramadan
Gubernur DKI Perintahkan Penertiban Taman Cawang Diduga Tempat Asusila
Israel Serang Teheran, Iran Balas dengan Serangan ke Pangkalan AS di Teluk
Garasi di Lamongan Ludes Terbakar, Diduga Balasan Kasus Pembacokan di Gresik