Lalu, bagaimana dengan kondisi keuangan saat ini? Agus Fatoni menilai, APBD harus dikelola secara maksimal. Dari hulu ke hilir. Mulai dari pendapatan, belanja, sampai pembiayaan. Soal pendapatan, optimasinya bisa datang dari mana saja. Dari PAD, dana transfer pusat, atau menggali potensi lain yang sah secara hukum.
Katanya lagi. Tapi, ada satu hal yang ditegaskannya: negara harus tetap hadir dalam situasi darurat. Jangan sampai pelayanan publik macet hanya karena alasan anggaran terbatas. Soalnya, mekanisme untuk mengubah atau menggeser anggaran sebenarnya sudah diatur dalam peraturan. Tinggal digunakan.
Dalam paparannya, Agus membeberkan setidaknya sembilan alternatif sumber pembiayaan daerah. Rentangannya luas, mulai dari PAD dan dana transfer, melibatkan BUMD atau BLUD, memanfaatkan barang milik daerah, sampai pada pinjaman daerah seperti obligasi. Ada juga skema kerjasama pemerintah dengan badan usaha, memanfaatkan CSR perusahaan, atau bahkan mengaitkannya dengan anggaran kementerian dan lembaga.
Terakhir, ia menguraikan empat langkah strategis untuk mendongkrak ekonomi daerah. Pertama, percepat realisasi APBD dengan mengoptimalkan belanja. Kedua, cari inovasi untuk meningkatkan PAD, tapi jangan sampai membebani masyarakat. Ketiga, manfaatkan Program Strategis Nasional sebagai peluang emas. Dan keempat, dorong peran swasta dengan mempermudah perizinan. Semuanya terdengar seperti pekerjaan rumah yang besar, tapi Agus Fatoni yakin bisa dilakukan asal ada kemauan dan pemahaman yang solid dari seluruh pihak.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Simeulue, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Brimob Polda Metro Jaya Amankan Empat Orang dan 25 Gram Narkoba dalam Patroli Cipta Kondisi
Poco X8 Pro Series Terjual Lebih dari 30.000 Unit dalam 24 Jam di Indonesia
BMKG Prediksi El Nino Lemah hingga Moderat, Pemerintah Siapkan Antisipasi Kekeringan