Suasana di Grand Studio Metro TV, Jakarta, Jumat malam lalu (22/2), cukup meriah. Acara Indonesia Top Achievements of the Year (ITAY) 2026 tak hanya menghadirkan sederet tokoh nasional, tapi juga momen penghargaan bagi sejumlah perusahaan. Salah satu yang mendapat sorotan adalah PT Sucofindo (Persero). Perusahaan ini berhasil menyabet Environmental & Industrial Compliance Excellence Award 2026.
Penghargaan itu diterima langsung oleh Dani Pramantyo, sang Direktur Operasi. Tentu saja, momen ini bukan sekadar piala untuk dipajang. Menurut Dani, ini adalah pendorong semangat untuk terus berkontribusi, baik di tingkat nasional maupun global.
“Ke depan, PT Sucofindo akan terus berperan aktif dalam mendukung upaya keberlanjutan dan transisi menuju ekonomi hijau,” ujarnya.
Dia menambahkan, komitmen itu akan diwujudkan melalui inovasi layanan berbasis ESG, program aksi hijau, dan layanan bisnis hijau lainnya. Semua itu bertujuan mendukung target Net Zero Emission Indonesia. Peran Sucofindo sebagai Lembaga Validasi dan Verifikasi (LVV) untuk skema Gas Rumah Kaca dan Nilai Ekonomi Karbon yang terakreditasi, menjadi fondasi penting dari langkah-langkah tersebut.
Di sisi lain, acara yang dibuka oleh Suryopratomo selaku Komisaris Metro TV itu juga menghadirkan penghargaan untuk perusahaan saudara. PT Surveyor Indonesia (Persero) atau PTSI, meraih Excellence in National Assurance Services 2026. Penghargaan ini datang atas kontribusi nyata mereka dalam berbagai Proyek Strategis Nasional, mulai dari energi, perdagangan, industri, hingga infrastruktur. Intinya, melalui kerja inspeksi, audit, verifikasi, dan sertifikasi, PTSI memastikan proyek-proyek besar berjalan dengan standar tinggi, transparan, dan akuntabel.
Fajar Wibhiyadi, Direktur Utama PTSI, menyikapi penghargaan ini sebagai sebuah amanah. Baginya, industri Testing, Inspection, and Certification (TIC) punya peran strategis yang mendasar.
“Tanpa assurance tidak ada trust, dan tanpa trust tidak ada daya saing. Karena itu, PTSI memposisikan diri sebagai Guardian of Assurance penjaga integritas sistem industri nasional yang memastikan standar tetap terjaga, risiko terkendali, dan tata kelola berjalan akuntabel,” tegas Fajar.
Jangkauan PTSI memang luas. Layanan assurance mereka menyentuh banyak sektor, dari dukungan tata kelola pemerintahan, penguatan kualitas industri, hingga kolaborasi dengan kampus. Tak cuma di dalam negeri, peran mereka meluas ke kancah internasional untuk memastikan produk Indonesia bisa bersaing dan diterima di pasar global.
Menariknya, beberapa tahun belakangan PTSI gencar melakukan transformasi digital. Mereka tak mau stuck dengan layanan konvensional. Dengan memanfaatkan AI, IoT, dan platform digital, mereka beralih ke layanan berbasis data dan teknologi cerdas. Pergeseran ini bukan cuma soal efisiensi, tapi juga menciptakan nilai tambah baru bagi pelanggan.
Melihat ke depan, ambisi mereka jelas. Ekspansi layanan berbasis AI dan penguatan di pasar internasional menjadi target. Mereka ingin Indonesia jadi rujukan global di bidang traceability, sustainability, dan compliance. Bahkan, mimpi untuk masuk dalam jajaran Top 20 Global TIC Player dengan kapabilitas digital kelas dunia pun ditegaskan.
Proses penilaian ITAY 2026 sendiri dilakukan secara ketat. Dewan juri independen yang terdiri dari Prof. Dr. Ricardi S. Adnan, M.Si., Dr. Hifni Alifahmi, M.Si., Prof. Dr. apt. Zilhadia, M.Si., Prof. Dr. Martani Huseini, DEA, dan Arief Suditomo, S.H., M.A., menilai berdasarkan lima kriteria utama: Prestasi, Inovasi, Transformasi, Kompetensi Inti, dan Kontribusi. Jadi, penghargaan yang diraih kedua BUMN ini jelas bukan hadiah cuma-cuma.
Artikel Terkait
Kota Bandung Kerahkan 1.596 Petugas Pemilah Sampah di Setiap RW
Belasan Kios di Pasar Labuan Pandeglang Hangus Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik
Janice Tjen Hadapi Camila Osorio di Babak Pertama Merida Open
Festival Imlek Nasional 2026 Resmi Dibuka, Tawarkan Harmoni Budaya di Jakarta