MURIANETWORK.COM - Hujan deras yang mengguyur selama dua hari berturut-turut memicu banjir di enam desa wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Peristiwa yang terjadi sejak Sabtu (21/2/2026) malam itu menyebabkan ratusan rumah terendam, fasilitas publik tergenang, dan ruas jalan utama terputus akibat aliran air bercampur lumpur.
Dampak Luas di Dua Kecamatan
Berdasarkan informasi dari petugas di lapangan, wilayah terdampak tersebar di Kecamatan Tambora dan Sanggar. Curah hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi panjang diduga menjadi penyebab utama meluapnya aliran air di permukiman warga. Situasi ini memaksa sejumlah aktivitas publik terhenti dan mengganggu mobilitas masyarakat.
Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Kabupaten Bima, Nurul Huda, menjelaskan kronologi kejadian. "Hujan dua hari berturut-turut, enam desa di Kecamatan Tambora dan Sanggar terendam banjir," tuturnya.
Rincian Kerusakan di Tambora
Di Kecamatan Tambora, dampaknya cukup signifikan. Tidak kurang dari 140 unit rumah di Desa Labuan Kananga terendam air. Genangan juga meluas ke sejumlah fasilitas vital, termasuk dua sekolah dasar (SDN 1 dan 2 Labuan Kananga), masjid, kantor desa, serta Pasar Labuan Kananga. Kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran akan kerusakan aset publik dan gangguan layanan.
Huda menambahkan detail mengenai gangguan infrastruktur. "Akses jalan raya provinsi di Desa Labuan Kananga juga tergenang air bercampur lumpur hingga menghambat arus lalu lintas," jelasnya.
Sementara itu, di Desa Kawinda Na'e yang juga berada di Kecamatan Tambora, tercatat 20 rumah mengalami kebanjiran. Yang lebih mengkhawatirkan, kekuatan arus air telah mengikis bahu jalan hingga menyebabkan ruas jalan raya setempat berubah menjadi aliran sungai, memutus konektivitas antar wilayah.
Pemantauan dan Penanganan
Meski laporan awal telah masuk, proses pendataan dampak dan kerusakan masih terus dilakukan oleh tim terkait. Banjir yang datang dengan cepat ini menyisakan pekerjaan rumah untuk memulihkan kondisi wilayah, membersihkan lumpur, dan mengevaluasi kerentanan infrastruktur. Kesigapan dalam penanganan darurat dan koordinasi antar lembaga menjadi kunci untuk meredakan dampak yang dirasakan warga.
Artikel Terkait
Propam Polda Sulsel Selidiki Kematian Bintara Muda Diduga Dianiaya di Asrama
Gunung Ibu Erupsi, Kolom Abu Membubung 300 Meter
Gerakan Indonesia ASRI Perluas Aksi Bersih-Bersih Ruang Publik di Hari Peduli Sampah
Turis Selandia Baru Ancam Warga dengan Parang Usai Ricuh di Musala Gili Trawangan