Kasus meninggalnya Nizam Safei, remaja 12 tahun asal Sukabumi, mendapat sorotan tajam dari parlemen. Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman, secara tegas membuka suara dan menuntut penyelidikan yang tuntas.
“Komisi III DPR RI mengutuk keras kasus kekerasan yang mengakibatkan meninggalnya Nizam Safei yang berusia 12 tahun,” tegas Habiburokhman kepada awak media, Minggu (22/2/2026).
Nada suaranya terdengar berat. Menurutnya, pelaku dalam hal ini sang ibu tiri bisa dijerat dengan Pasal 76C juncto Pasal 80 UU Perlindungan Anak. Jeratannya tak main-main: hukuman penjara hingga 15 tahun.
Namun begitu, itu belum tentu cukup. Habiburokhman mendesak Polres Sukabumi untuk bekerja lebih cermat. Ia menduga kuat penganiayaan ini bukan kejadian satu-satunya. Kalau terbukti berulang, fakta itu bisa jadi pemberat hukuman yang signifikan.
“Kami juga meminta kepada Polres Sukabumi selaku penyidik untuk memeriksa dengan teliti apakah perbuatan yang dilakukan terhadap adik Nizam ini berkelanjutan atau tidak. Kalau berkelanjutan maka hal tersebut menjadi pemberat bagi si pelaku penganiayaan yang mengakibatkan meninggalnya Nizam Safei,” paparnya lebih lanjut.
Komisi III, katanya, tak akan tinggal diam. Mereka berjanji akan mengawal proses hukum ini sampai ke meja hijau.
“Kami akan terus kawal kasus ini sampai ke persidangan agar almarhum dan keluarganya mendapatkan keadilan,” ucap Habiburokhman.
Di sisi lain, cerita yang muncul dari rumah sakit sungguh memilikan. Sebelum menghembuskan napas terakhir pada Kamis (19/2), Nizam sempat berucap. Ia mengaku dipaksa meminum air panas oleh ibu tirinya. Pengakuan itu kini menjadi titik terang yang pahit.
Sampai saat ini, Polres Sukabumi masih menyelidiki. Belum ada penetapan tersangka. Publik menunggu, sementara keluarga Nizam berharap keadilan tak hanya jadi janji.
Artikel Terkait
KAI Alihkan Akses Utama Penumpang KRL ke Bangunan Baru di Stasiun Pondok Cina
Longsor di Tasikmalaya Putuskan Akses Jalan Penghubung Dua Kecamatan
Bosowa Tegaskan Komitmen Ketahanan Bisnis di HUT ke-53
Gohu Ikan, Kuliner Tradisional Malut yang Telah Jadi Warisan Budaya, Laris Manis Saat Ramadan