MURIANETWORK.COM - Cristiano Ronaldo, megabintang sepak bola asal Portugal, menunjukkan sikap hormat yang dalam terhadap budaya Arab Saudi dengan turut menjalani ibadah puasa Ramadan. Mantan pemain Al Nassr, Shaye Sharahili, mengungkapkan bahwa Ronaldo yang non-Muslim itu berpuasa penuh selama dua hari bersama rekan-rekan Muslimnya di klub. Langkah ini dilakukan Ronaldo untuk merasakan langsung pengalaman spiritual umat Islam di bulan suci, mencerminkan empati dan adaptasinya di lingkungan barunya.
Kisah dari Dalam Klub
Cerita menarik ini diungkap langsung oleh Shaye Sharahili, mantan bek Al Nassr yang pernah satu tim dengan Ronaldo. Dalam sebuah podcast olahraga, Sharahili membagikan momen yang mungkin tak terduga banyak penggemar sepak bola.
Menurut penuturannya, aksi Ronaldo itu murni berasal dari keinginan pribadi sang pemain untuk memahami dan menghormati tradisi mayoritas rekan setimnya. Dalam dunia sepak bola yang kerap diwarnai sorotan performa, keputusan sederhana ini justru mengungkap sisi lain dari sosok atlet berkelas dunia.
Puasa Dua Hari sebagai Bentuk Empati
Ronaldo diketahui menjalani puasa Ramadan secara penuh selama dua hari. Bagi atlet dengan disiplin tinggi seperti dirinya, menahan haus dan dahaga di tengah tuntutan latihan dan iklim Timur Tengah tentu bukan hal mudah. Namun, ia memilih untuk melakukannya.
“Tahun lalu, Cristiano Ronaldo mencoba berpuasa bersama para pemain Muslim Al Nassr selama Ramadan. Dia berpuasa selama dua hari untuk merasakan apa yang dirasakan umat Muslim selama berpuasa,” tutur Sharahili.
Kutipan tersebut menegaskan bahwa motivasi Ronaldo bersifat personal dan eksperiensial. Ia tidak sekadar menunjukkan sikap simbolis, tetapi benar-benar ingin merasakan pengalaman yang sama dengan kawan-kawannya.
Ramadan dalam Sepak Bola Profesional
Pelaksanaan ibadah puasa di kalangan pesepak bola profesional kerap menjadi topik pembahasan, terutama terkait pengaruhnya terhadap stamina dan performa fisik. Di banyak liga Eropa, di mana pemain Muslim merupakan minoritas, hal ini kadang memerlukan penanganan khusus dari tim medis dan pelatih.
Namun, konteksnya berbeda di Arab Saudi. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, liga dan klub telah lama beradaptasi. Jadwal latihan dan bahkan waktu kick-off pertandingan sering kali diatur ulang selama bulan Ramadan untuk mendukung para pemain yang berpuasa. Lingkungan inilah yang kini dijalani Ronaldo.
Lebih dari Sekadar Gestur
Keputusan Ronaldo untuk ikut berpuasa, meski singkat, mendapatkan apresiasi sebagai tindakan yang penuh empati. Dalam perspektif yang lebih luas, langkah ini dilihat sebagai bentuk penghormatan aktif terhadap budaya dan nilai-nilai religius di negara tempat ia membangun karier babak akhirnya.
Di tengah sorotan global yang seringkali hanya terpaku pada gol dan trofi, momen seperti ini mengingatkan bahwa sepak bola juga merupakan pertemuan antar manusia dari berbagai latar belakang. Sikap Ronaldo, yang datang sebagai figur global, memberikan contoh sederhana tentang rasa hormat dan keinginan untuk memahami yang dapat berbicara lebih lantang daripada kata-kata.
Artikel Terkait
PLN Operasikan SPKLU Roda Dua di Empat Daerah untuk Dukung Becak Listrik
AS Pertimbangkan Izin Pengayaan Uranium Simbolis untuk Iran, Ancaman Serangan Masih Menggantung
Napoleon III dan Victor Emmanuel II Tandatangani Perjanjian Turin, Serahkan Nice ke Prancis
Komisi VIII DPR Tinjau Penyaluran Bansos dan Sinergi Lembaga Sosial di Batam