Pakistan Lancarkan Serangan Udara ke Kamp Militan di Perbatasan Afghanistan

- Minggu, 22 Februari 2026 | 07:45 WIB
Pakistan Lancarkan Serangan Udara ke Kamp Militan di Perbatasan Afghanistan

Pakistan baru-baru ini melancarkan serangan di tujuh titik berbeda di sepanjang perbatasannya dengan Afghanistan. Targetnya adalah kelompok-kelompok militan yang diduga berbasis di sana. Langkah ini diambil setelah Islamabad dikejutkan oleh serangkaian aksi teror, termasuk ledakan bunuh diri yang mengguncang ibukota.

Lewat sebuah pernyataan resmi, Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan menjelaskan bahwa operasi ini bersifat selektif dan didasarkan pada intelijen yang akurat.

"Pakistan telah melakukan penargetan selektif berbasis intelijen terhadap tujuh kamp dan tempat persembunyian teroris milik Taliban Pakistan dan afiliasinya di wilayah perbatasan,"

Begitu bunyi pernyataan mereka, seperti dilaporkan AFP, Minggu (22/2/2026).

Di sisi lain, Menteri Informasi Attaullah Tarar lewat akun X-nya menambahkan bahwa sasaran serangan juga mencakup afiliasi dari kelompok ISIS. Namun begitu, pernyataan tersebut terasa singkat. Tidak ada rincian lokasi pasti atau detail operasional lainnya yang dibeberkan.

Latar belakang serangan ini jelas: balasan. Dua minggu lalu, sebuah masjid Syiah di Islamabad menjadi lokasi ledakan bunuh diri yang mengerikan. Tak lama setelahnya, wilayah barat laut Pakistan kembali diguncang aksi serupa. Kedua peristiwa ini memicu kemarahan dan tekanan untuk bertindak.

Kelompok ISIS, yang mengklaim bertanggung jawab atas pemboman masjid itu, mencoreng kota dengan tragedi terparah sejak 2008. Setidaknya 31 nyawa melayang dan lebih dari 160 orang terluka dalam kekacauan itu.

Hubungan antara Islamabad dan Kabul sendiri sudah lama memanas. Pakistan berulang kali menuduh otoritas Taliban di Afghanistan membiarkan wilayahnya jadi tempat persembunyian bagi para militan. Tudingan ini, ditambah bentrokan perbatasan mematikan dalam beberapa bulan terakhir, membuat situasi antara kedua negara tetangga itu kian runyam dan tegang.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar