Warga Aceh Timur Bergantung Rakit Usai Banjir Bandang Melebarkan Sungai Arakundo

- Minggu, 22 Februari 2026 | 02:15 WIB
Warga Aceh Timur Bergantung Rakit Usai Banjir Bandang Melebarkan Sungai Arakundo

Suasana di tepian Sungai Arakundo di Dusun Ranto Panyang Rubek, Aceh Timur, kini terasa berbeda. Pasca banjir bandang yang melanda beberapa bulan lalu, sungai itu berubah. Airnya tak lagi tenang, arusnya mengalir deras dan ganas. Yang paling mencolok, tubuh sungai itu melebar begitu jauh menurut perkiraan warga, tambahannya bisa mencapai 30 meter dari lebar sebelumnya.

Ridwan (40), seorang warga yang sehari-hari mengoperasikan rakit penyeberangan di sana, mengaku was-was. “Pinggiran ini sudah lebar. Biasanya juga nggak ada gelombang-gelombang ini, sekarang kami kayak jadi takut juga,” ujarnya, sambil menunjuk ke tepian yang terus terkikis. “Lebarnya nambah kira-kira 30 meter sudah ini. Dari 100 meter.”

Dia mengungkapkan hal itu Sabtu lalu, saat ditemui sedang mengurus rakitnya di Desa Sijudo, Pante Bidari.

Memang, kalau dilihat sekilas, derasnya arus itu tak main-main. Air terus menggerus tanah di tepian, termasuk tempat perahu rakitan Ridwan biasa bersandar. Perubahan ini membuat warga yang harus menyeberang jadi lebih berhati-hati.

Sejumlah warga terdampak bencana alam menaiki rakit untuk menyeberangi Sungai Arakundo di Dusun Ranto Panyang Rubek, Desa Sijudo, Pante Bidari, Aceh Timur, Aceh, Sabtu (21/2/2026). Akses jembatan apung yang hanyut pada November 2025 belum tergantikan, sehingga warga masih bergantung pada rakit. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/rwa.

Jasa Ridwan ini sebenarnya vital. Rakitnya jadi penghubung antara Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara. Banyak yang mengandalkannya: dari para pekerja, pedagang yang bawa hasil kebun atau jualan kosmetik, sampai guru-guru yang harus mengajar di seberang.

“Paling banyak bisa angkut lima-delapan kereta (sepeda motor),” katanya. “Biasanya ramai dekat-dekat Lebaran.”

Soal bayaran, Ridwan punya prinsip sendiri. Dia nggak pernah patok harga. “Kadang ada yang kasih Rp5 ribu, kadang ada yang Rp10 ribu. Tadi ada yang kasih Rp3 ribu. Saya nggak patok,” ujarnya. Bahkan untuk warga yang mengantar orang sakit, dia sama sekali tidak meminta bayaran. “Orang sakit itu saya nggak minta, sebab harus lewat terus,” tuturnya.

Aktivitas penyeberangan menggunakan rakit di Sungai Arakundo masih menjadi andalan warga setelah jembatan apung hanyut diterjang banjir bandang. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/rwa.

Cerita serupa datang dari Tokli, salah seorang pengguna jasa Ridwan. Dulu, menurutnya, ada jembatan apung yang memudahkan. Tapi sejak jembatan itu putus dan hanyut terbawa banjir, belum ada tanda-tanda akan dibangun kembali. Jadilah, rakit menjadi satu-satunya pilihan.

Meski arus sekarang lebih kencang, Tokli merasa perahu rakitan Ridwan masih cukup stabil. Tapi kerinduan akan akses yang lebih mudah tetap ada. “Tetapi kalau ada jembatan kan enak, bisa mondar-mandir,” keluhnya. “Saat ini terbatas.”

Jadi begitulah keadaannya sekarang. Warga waspada, tapi tetap harus beraktivitas. Mereka bergantung pada sebilah rakit dan kebaikan hati seorang Ridwan, sambil berharap ada solusi permanen untuk sungai yang telah berubah itu.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar