Suasana di tepian Sungai Arakundo di Dusun Ranto Panyang Rubek, Aceh Timur, kini terasa berbeda. Pasca banjir bandang yang melanda beberapa bulan lalu, sungai itu berubah. Airnya tak lagi tenang, arusnya mengalir deras dan ganas. Yang paling mencolok, tubuh sungai itu melebar begitu jauh menurut perkiraan warga, tambahannya bisa mencapai 30 meter dari lebar sebelumnya.
Ridwan (40), seorang warga yang sehari-hari mengoperasikan rakit penyeberangan di sana, mengaku was-was. “Pinggiran ini sudah lebar. Biasanya juga nggak ada gelombang-gelombang ini, sekarang kami kayak jadi takut juga,” ujarnya, sambil menunjuk ke tepian yang terus terkikis. “Lebarnya nambah kira-kira 30 meter sudah ini. Dari 100 meter.”
Dia mengungkapkan hal itu Sabtu lalu, saat ditemui sedang mengurus rakitnya di Desa Sijudo, Pante Bidari.
Memang, kalau dilihat sekilas, derasnya arus itu tak main-main. Air terus menggerus tanah di tepian, termasuk tempat perahu rakitan Ridwan biasa bersandar. Perubahan ini membuat warga yang harus menyeberang jadi lebih berhati-hati.
Jasa Ridwan ini sebenarnya vital. Rakitnya jadi penghubung antara Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara. Banyak yang mengandalkannya: dari para pekerja, pedagang yang bawa hasil kebun atau jualan kosmetik, sampai guru-guru yang harus mengajar di seberang.
Artikel Terkait
MRT Istora Mandiri Gelap Sesaat Usai Pemadaman Listrik, Operasional Tetap Normal
Listrik PLN Padam, Operasional KRL di Stasiun Duri Tetap Normal
Gubernur DKI Tegaskan IKJ Tak Pindah dari Cikini, Siapkan Ruang Kreatif di Kota Tua
Polisi Bagikan Roti dan Air Mineral ke Peserta Unjuk Rasa di Monas