MURIANETWORK.COM - Anggota Komisi VII DPR RI, Ilham Permana, menilai pengadaan 105.000 kendaraan niaga untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai kebijakan strategis dengan dampak ekonomi yang luas. Proyek senilai Rp 24,66 triliun yang dijalankan PT Agrinas Pangan Nusantara ini melibatkan dua produsen otomotif India, yaitu Tata Motors (70.000 unit) dan Mahindra & Mahindra (35.000 unit).
Dampak Lebih dari Sekadar Logistik
Ilham Permana menyatakan dukungannya terhadap tujuan program untuk memperkuat distribusi pangan dan konektivitas logistik desa. Menurutnya, langkah ini penting untuk memangkas rantai pasok dan meningkatkan kesejahteraan petani. Namun, ia menegaskan bahwa belanja negara dengan skala sebesar ini harus dilihat lebih dari sekadar transaksi pengadaan barang semata.
Pengeluaran publik yang bersumber dari dana negara, tegasnya, wajib dirancang untuk memberikan dampak struktural yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional.
"Setiap rupiah belanja negara harus memberi nilai tambah jangka panjang. Pengadaan ini harus dilihat sebagai kesempatan untuk memperkuat fondasi industri kita, bukan hanya memenuhi kebutuhan logistik sesaat," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (20/2/2026).
Peluang Penguatan Rantai Industri
Pandangan tersebut dilandasi oleh fakta bahwa sektor otomotif memiliki keterkaitan yang sangat luas. Industri ini menyentuh berbagai subsektor, mulai dari logam dasar, komponen mesin, ban, kaca, hingga kabel, serta melibatkan banyak pelaku usaha kecil dan menengah dalam rantai pasoknya. Oleh karena itu, keputusan pengadaan berskala besar seperti ini berpotensi memengaruhi utilisasi pabrik, keberlangsungan tenaga kerja, dan kekuatan ekosistem industri secara keseluruhan.
Di sisi regulasi, Ilham mengingatkan bahwa kebijakan pengadaan pemerintah telah memiliki kerangka jelas, terutama terkait penggunaan Produk Dalam Negeri yang diatur dalam Undang-Undang Perindustrian dan Peraturan Presiden terkait. Regulasi ini, menurutnya, bukan sekadar aturan administratif, tetapi juga mencerminkan arah kebijakan industrialisasi yang memposisikan belanja pemerintah sebagai instrumen penguat daya saing industri dalam negeri.
"Program Koperasi Merah Putih adalah bagian dari penguatan ekonomi desa. Pada saat yang sama, kita harus memastikan bahwa kebijakan ini juga memperkuat struktur industri nasional. Penguatan desa dan penguatan industri seharusnya berjalan beriringan," tegas Ilham.
Selaraskan dengan Strategi Jangka Panjang
Ilham berpandangan bahwa ruang kebijakan masih terbuka untuk memastikan proyek strategis semacam ini selaras dengan tujuan jangka panjang pembangunan industri. Transformasi ekonomi, dalam analisanya, tidak akan tercapai jika belanja negara tidak dirancang untuk memperluas dampak ekonomi domestik secara berkelanjutan.
Ia juga melihat keselarasan arah kebijakan ini dengan komitmen pemerintah dalam mendorong kemandirian ekonomi dan memperkuat basis produksi nasional. Pengadaan kendaraan untuk koperasi desa, jika dikelola dengan tepat, dapat menjadi contoh bagaimana kebijakan di tingkat tapak akar rumput sekaligus menjadi bagian dari strategi industrialisasi yang lebih besar.
Komitmen Pengawasan
Sebagai anggota parlemen di komisi yang membidangi perindustrian, Ilham Permana memastikan bahwa dirinya dan rekan-rekannya akan terus mencermati implementasi kebijakan ini. Tujuannya adalah agar pelaksanaannya berjalan secara efektif, transparan, dan memberikan manfaat optimal bagi perekonomian.
"Keberhasilan program ini bukan hanya diukur dari jumlah kendaraan yang beroperasi di desa, tetapi juga dari sejauh mana kebijakan ini berkontribusi terhadap ketahanan dan daya saing industri Indonesia," pungkasnya.
Artikel Terkait
Menkominfo: Keterlibatan Indonesia di Board of Peace Babak Baru Diplomasi Palestina
Tanggul Jebol, Lima Desa di Demak Masih Terendam Banjir
Polda Metro Jaya Edukasi Siswa SD Bahaya Grooming dan Cyberbullying
Orang Tua Laporkan RS Paramount Makassar ke Polisi Diduga Malapraktik Infus pada Bayi 9 Bulan