Perempuan di Garis Depan Bencana, Namun Absen dalam Pengambilan Keputusan

- Jumat, 20 Februari 2026 | 06:30 WIB
Perempuan di Garis Depan Bencana, Namun Absen dalam Pengambilan Keputusan

"Banyak keputusan politik besar berdiri di atas kerja sosial perempuan yang tidak pernah diakui sebagai faktor penentu," tulis Enloe dalam kajiannya. Mengabaikan wilayah pengalaman tersebut menghasilkan pembacaan krisis yang tidak lengkap sejak awal.

Konteks bencana di Indonesia memperlihatkan logika yang sama. Kerja perawatan, stabilisasi emosi, dan pengaturan logistik kecil justru menjadi fondasi ketahanan komunitas. Tanpa fondasi ini, bantuan sebesar apa pun sering kali tidak cukup menjangkau kebutuhan yang paling mendasar.

Ketangguhan yang Dijadikan Penopang, Bukan Penentu

Narasi publik kerap memuji ketangguhan perempuan dalam krisis. Namun, pujian ini sering kali berhenti pada pengakuan moral, tanpa menggeser struktur kewenangan. Ketangguhan mereka justru diperlakukan sebagai sumber daya sosial yang selalu siap menutup celah-celah yang ditinggalkan oleh sistem formal.

Caroline Criado Perez dalam bukunya pada 2019 memberikan penjelasan yang relevan. Ia menunjukkan bahwa bias data akan menghasilkan bias kebijakan.

"Pengalaman perempuan yang tidak tercatat menghasilkan kebutuhan perempuan yang tidak terbaca," jelasnya. Situasi krisis memperbesar dampak dari bias semacam ini.

Akibatnya, meski menjadi sumber informasi terdekat dengan warga, posisi perempuan di tingkat komunitas sering hanya ditempatkan sebagai pelapor, bukan sebagai penentu prioritas. Kehadiran di forum tidak identik dengan pengaruh dalam pengambilan keputusan.

Menuju Keputusan yang Lebih Presisi dan Bertanggung Jawab

Perspektif perempuan dalam penanganan krisis bukanlah agenda simbolis atau sekadar memenuhi kuota. Ini adalah instrumen untuk mencapai ketepatan kebijakan yang lebih tinggi. Dengan melibatkan sudut pandang ini, pembacaan risiko menjadi lebih dini, pemetaan kebutuhan lebih rinci, dan perhitungan dampak jangka panjang lebih matang.

Masalah utamanya bukan terletak pada kapasitas perempuan, melainkan pada definisi kepemimpinan dan pengetahuan strategis yang masih terlalu sempit. Dalam situasi darurat yang menuntut ketepatan, mengabaikan perspektif dan pengalaman setengah dari populasi bukanlah sekadar ketidakadilan. Itu adalah sebuah kekeliruan strategis yang dapat berakibat pada kegagalan respons yang seharusnya bisa dihindari.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar