Keluhan warga bukan tanpa alasan. Naufal, seorang warga berusia 27 tahun, menceritakan pengalamannya. Dia adalah salah satu perwakilan yang hadir dalam mediasi tersebut.
Kebisingan itu, tuturnya, datang dari suara teriak-teriak pemain dan bunyi bola yang memantul. Awalnya, keributan itu berlangsung sangat lama.
"Itu ada teriak-teriak, ada suara bola sih terutama, dan teriak-teriakannya ini dari jam 6 pagi sampai jam 12 malam. Tapi perlu dicatat kalau jam 6 pagi sampai jam 12 malam itu waktu awal-awal diomongin, maksudnya Januari sampai Februari awal. Setelahnya mereka commit sampai jam 10, cuma ada beberapa kali kita ketemu jam 10 tuh masih ketawa-ketawa, masih main," ungkap Naufal.
Dalam mediasi, tuntutan warga cukup tegas. Mereka meminta penghentian total operasional lapangan.
"Kita minta tadi fourthwall Padel untuk segera menghentikan seluruh aktivitas operasional. Terus kami berhak mendapatkan kembali ketenangan yang kami alami, keamanan, kenyamanan hidup kami seperti sebelum adanya Fourthwall Padel," kata dia.
Mediasi ini tampaknya baru langkah awal. Warga menunggu realisasi janji pengelola, sementara pengelola berusaha mencari titik temu agar bisnisnya bisa tetap berjalan tanpa terus mengganggu ketenangan tetangga.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Dua Tersangka Pencuri Komodo di Manggarai Timur
Mantan Dirut PPI Ajukan PK ke MA Meski Sudah Dieksekusi ke Lapas
Lefundes Bawa Borneo Taklukkan Madura, Tapi Doakan Mantan Klubnya Bangkit
Serangan Israel di Lebanon Tewaskan Tiga Warga Sipil, Rusak Rumah Sakit di Tyre