Dia melihat, arus globalisasi dan gempuran perkembangan ekonomi-teknologi Asia membuat skill berbahasa Mandarin kian dicari. Bukan cuma soal peluang komunikasi internasional. Tapi juga akses ke pendidikan global, beasiswa, dan tentu saja, karier di berbagai sektor.
Di stan mereka, Laidu memperkenalkan program pelatihan yang dirancang untuk berbagai usia. Mulai anak-anak sampai dewasa. Metodenya interaktif, menekankan praktik komunikasi langsung, plus persiapan untuk ujian sertifikasi macam HSK atau YCT. Yang menarik, pemahaman budaya jadi bagian yang tidak dipisahkan dari belajar bahasanya.
Admin Laidu, Julia Nada Murni, juga merasakan atmosfer festival. Baginya, keterlibatan ini memberikan pengalaman berharga.
“Acaranya seru dan menarik. Ada pertunjukan Barongsai yang hidup, yang bikin kita lebih paham Budaya China. Ini sejalan dengan visi Laidu,” ungkap Julia.
Pada akhirnya, partisipasi Laidu Lampion Education di festival kuliner Imlek itu bukan sekadar promosi biasa. Mereka berharap bisa membangun kesadaran bahwa belajar bahasa Mandarin sejak dini itu perlu. Selain sebagai bekal menghadapi dunia yang makin kompetitif, juga jadi jembatan untuk mempererat pemahaman lintas budaya. Langkah awal yang sederhana, tapi bermakna.
Artikel Terkait
Politisi Desak Penegakan Hukum atas Intimidasi Petugas Kebersihan di Cengkareng
Cuaca Panas Ekstrem Ancam Kesehatan, Waspadai Panas Dalam hingga Heatstroke
Libur Panjang Paskah, Kawasan Monas Ramai Dikunjungi Keluarga
Pengacara Bantah Kliennya Ada di TKP Kasus Kekerasan Seksual di Tanah Abang