Kapasitas untuk Memimpin di Tingkat Strategis
Sebelum menduduki posisi Katib Aam, ia telah aktif sebagai salah satu Rais Syuriyah PBNU, sehingga tidak asing dengan dinamika dan tantangan organisasi. Posisi Katib Aam Syuriah, yang merupakan jabatan tertinggi kedua setelah Rais Aam, memikul tanggung jawab besar untuk membina dan mengawal arah organisasi sesuai khittah NU.
Dengan pengalaman multidimensinya, kapasitas Prof. Nuh untuk menjalankan amanah ini dinilai sangat mumpuni. Keahliannya di bidang pendidikan akan relevan untuk mengawal kebijakan pendidikan NU, sementara pengalaman birokrasi dan kepemimpinannya di tingkat nasional memberikan bekal manajerial yang dibutuhkan untuk mengelola organisasi sebesar dan sekompleks NU.
Bagi banyak pengamat, sosoknya dianggap mampu menjembatani berbagai diskursus, dari yang bersifat tradisional hingga kontemporer. Kemampuan komunikasinya yang cair dan visioner sering kali menjadi perhatian.
“Beberapa kali penulis bersyukur bisa komunikasi secara langsung. Bahasanya cair dan visioner,” tutur seorang pengamat yang mengikuti perjalanannya.
Dengan bekal itu, harapan besar disandarkan padanya untuk menjaga marwah sekaligus mengarahkan strategi PBNU ke depan, memastikan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini terus memberikan kontribusi maksimal bagi umat dan bangsa. Wallahu'alam bishawab.
KH Imam Jazuli. Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri dan Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir.
Artikel Terkait
Megawati Serukan Persatuan Politik Tuntut Keadilan atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon
Pasangan Muda-Mudi Diguyur Air Warga Usai Ketiduran Berpelukan di Musala Pantai Logending
Pencarian Dua Mahasiswi Terseret Arus di Wira Garden Masih Berlanjut
Kebakaran SPBE di Bekasi Diduga Akibat Kebocoran Gas, 7 Orang Luka dan 19 Rumah Rusak