Dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyuarakan harapan sekaligus kecemasan. Dia berharap perundingan damai yang dimediasi AS dengan Rusia pekan depan di Jenewa bisa membuahkan hasil. Namun begitu, nada bicaranya terdengar cukup getir.
Zelensky merasa Kyiv terlalu sering jadi pihak yang diminta untuk mengalah. "Amerika sering kembali ke topik konsesi," ujarnya, "dan terlalu sering konsesi tersebut hanya dibahas dalam konteks Ukraina, bukan Rusia."
Menurutnya, situasi ini terasa janggal. "Jujur saja, terkadang terasa seperti kedua pihak membicarakan hal-hal yang sama sekali berbeda," tambahnya.
Pertemuan di Jenewa nanti akan jadi babak lanjutan. Sebelumnya, pembicaraan serupa sudah digelar di Abu Dhabi. Meski digambarkan konstruktif, pertemuan itu tak menghasilkan terobosan berarti. Kini, dengan Presiden AS Donald Trump berupaya menengahi, semua mata tertuju pada Swiss.
Zelensky mendesak sekutunya untuk memberikan jaminan keamanan yang jelas. Tanpa itu, perdamaian sulit dibangun. "Di mana tidak ada sistem keamanan yang jelas, perang selalu kembali," tegasnya.
Di sisi lain, ada satu poin yang terus dia perjuangkan: kehadiran Eropa di meja perundingan. Zelensky yakin peluang damai akan lebih besar jika negara-negara Eropa punya kursi di sana. Sayangnya, usulan ini sudah ditentang keras oleh Moskow. "Eropa praktis tidak hadir di meja perundingan. Menurut saya itu adalah kesalahan besar," katanya.
Perang yang dimulai sejak invasi Rusia pada Februari 2022 ini masih berlangsung. Upaya perdamaian terus digaungkan, tapi jalan menuju meja perundingan ternyata masih panjang dan berliku.
Artikel Terkait
Alumni Akpol 1998 Resmikan Lobby Parama Satwika untuk Dukung Akademi
Inter Milan Kalahkan Juventus 3-2 di Tengah Kontroversi Kartu Merah Kalulu
Pramono Anung Pastikan Status Hukum Lahan RS Sumber Waras Tuntas, Ajukan sebagai Proyek Strategis Nasional
Mantan Penyidik KPK Soroti Inkonsistensi Jokowi Soal Wacana Kembalikan UU KPK