Jakarta baru saja menjadi saksi pembukaan yang cukup meriah untuk SEA Boulder League 2026. Babak pertama liga anyar ini digelar di ibu kota, menandai dimulainya sebuah perjalanan panjang. Tak cuma di Indonesia, tiga seri kompetisi akan berlangsung juga di Malaysia dan Filipina.
Yang menarik, ada 180 atlet dari 13 negara yang turun. Mereka akan bertarung dalam satu sirkuit regional yang jelas strukturnya. Standarnya profesional, dan yang penting, konsisten di setiap babak. Ini bukan turnamen sekali jadi.
Liga ini jelas dirancang untuk jangka panjang. Melalui kategori Novice, Intermediate, dan Open, atlet punya peta yang jelas. Mereka bisa naik level secara bertahap, sekaligus menguji diri di berbagai lokasi dan kondisi lomba. Sebuah konsep yang matang.
Sebagai tuan rumah pembuka, peran Boulder Planet Indonesia jadi krusial. Ini sekaligus sinyal untuk kesiapan Indonesia jadi pusat pertumbuhan panjat tebing di kawasan.
Director of Boulder Planet Indonesia, Ronald Fedora Pudjiono, bicara soal peluang ini. Ia menekankan betapa pentingnya akses kompetisi bagi atlet lokal.
“Bertanding di negara sendiri memberi atlet kami eksposur berharga. Tanpa harus pusing dengan urusan logistik dan biaya ke luar negeri,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (14/2/2026).
“Dengan kompetisi tingkat tinggi yang rutin digelar, mereka bisa lebih tajam, percaya diri, dan tentu saja, lebih siap mental untuk panggung internasional,” lanjut Ronald.
Di sisi lain, soal teknis kompetisi juga dapat perhatian serius. Brandon Gwee, yang menjabat sebagai Chief Route Setter liga ini, bicara tentang konsistensi.
“Penataan rute itu bukan cuma buat bikin susah. Tapi lebih untuk memastikan setiap problem benar-benar mengukur kemampuan dan mendorong perkembangan atlet,” jelas Brandon, yang juga Head Route Setter Boulder Planet Singapore.
“Standar yang konsisten inilah yang bantu atlet menilai progres mereka secara objektif,” tambahnya.
Dari balik layar, penyelenggaraan liga ini ditopang oleh kerja sama regional. Event Director SEA Boulder League, Patrice Claire Bayo Verosil, menegaskan visi jangka panjang mereka.
“Ini dirancang sebagai sistem, bukan cuma rangkaian turnamen. Kawasan kita punya banyak talenta. Mereka butuh platform yang bisa diandalkan, yang hadir setiap musim,” terang Patrice.
“Tujuannya agar atlet muda seperti Cikal punya jalur yang jelas untuk berkembang. Agar mereka bisa terus bertumbuh,” imbuhnya.
Dengan penyelenggaraan yang profesional dan total hadiah menggiurkan lebih dari Rp100 juta liga ini diharapkan jadi katalis. Mimpi besarnya adalah melahirkan lebih banyak talenta Asia Tenggara yang sanggup bersaing di dunia.
Semangat “The World Will Know Us” yang diusung bukan sekadar slogan. Ini adalah langkah nyata. Sebuah ikhtiar untuk membangun ekosistem panjat tebing yang lebih kuat, kompetitif, dan tentu saja, berkelanjutan untuk Indonesia dan seluruh kawasan.
Artikel Terkait
Menpora Erick Thohir: Atlet Disabilitas Akan Dapat Pendampingan Literasi Keuangan
Titiek Soeharto dan Kapolri Tinjau Korban Banjir Tapteng, Salurkan Bantuan Logistik dan Teknologi Air Bersih
KPK Soroti Celah Diskresi dan Sistem Data di Bea Cukai Pemicu Korupsi
Real Madrid Puncaki Klasemen Usai Hajar Real Sociedad 4-1