“Penataan rute itu bukan cuma buat bikin susah. Tapi lebih untuk memastikan setiap problem benar-benar mengukur kemampuan dan mendorong perkembangan atlet,” jelas Brandon, yang juga Head Route Setter Boulder Planet Singapore.
“Standar yang konsisten inilah yang bantu atlet menilai progres mereka secara objektif,” tambahnya.
Dari balik layar, penyelenggaraan liga ini ditopang oleh kerja sama regional. Event Director SEA Boulder League, Patrice Claire Bayo Verosil, menegaskan visi jangka panjang mereka.
“Ini dirancang sebagai sistem, bukan cuma rangkaian turnamen. Kawasan kita punya banyak talenta. Mereka butuh platform yang bisa diandalkan, yang hadir setiap musim,” terang Patrice.
“Tujuannya agar atlet muda seperti Cikal punya jalur yang jelas untuk berkembang. Agar mereka bisa terus bertumbuh,” imbuhnya.
Dengan penyelenggaraan yang profesional dan total hadiah menggiurkan lebih dari Rp100 juta liga ini diharapkan jadi katalis. Mimpi besarnya adalah melahirkan lebih banyak talenta Asia Tenggara yang sanggup bersaing di dunia.
Semangat “The World Will Know Us” yang diusung bukan sekadar slogan. Ini adalah langkah nyata. Sebuah ikhtiar untuk membangun ekosistem panjat tebing yang lebih kuat, kompetitif, dan tentu saja, berkelanjutan untuk Indonesia dan seluruh kawasan.
Artikel Terkait
Pemkot Bogor Ancam Sanksi ASN yang WFH di Kafe, Pantau dengan Geotagging
Pemerintah Terapkan WFH Setiap Jumat untuk ASN Guna Hemat BBM
Gempa M 7,6 Guncang Bitung, Picu Tsunami 0,3 Meter di Halmahera Barat
Gempa M 7,6 Guncang Sulut dan Malut, BMKG Konfirmasi Tsunami 0,3 Meter