Dasar Optimisme: Proyeksi Produksi dan Stok
Keyakinan pemerintah dalam menjalankan strategi ini bukan tanpa dasar. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi jagung pada triwulan I tahun 2026 mencapai 4,94 juta ton, atau meningkat sekitar 4,18% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini diperkuat oleh adanya stok carry over yang diperkirakan mencapai 4,5 juta ton.
Dengan kondisi neraca pangan yang cukup kuat ini, pemerintah menegaskan bahwa kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi tanpa impor. Untuk melindungi pendapatan petani, harga pembelian pemerintah (HPP) di tingkat petani juga telah ditetapkan sebesar Rp5.500 per kilogram.
Menggeser Paradigma Pemanfaatan
Selama ini, konsumsi jagung nasional masih didominasi oleh kebutuhan pakan ternak, khususnya untuk sektor perunggasan. Ke depan, pemerintah berupaya menggeser paradigma dengan mendorong pemanfaatan jagung sebagai bahan baku industri pangan olahan. Peralihan ini diharapkan dapat menekan ketergantungan pada pasokan luar negeri sekaligus mendongkrak nilai tambah komoditas strategis ini.
Berdasarkan perkiraan, kebutuhan jagung untuk industri pangan nasional mencapai sekitar 450.000 ton per tahun, terutama untuk industri pati dan produk turunannya. Jika strategi hilirisasi berjalan optimal, jagung diharapkan tidak hanya menopang sektor peternakan, tetapi juga menjadi pondasi baru bagi pertumbuhan industri pangan nasional dan peningkatan kesejahteraan petani.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Pengedar 100 Vape Berisi Narkoba Etomidate di Tanjung Priok
Kolaborasi Swasta-Pemerintah Turunkan Angka Stunting di Maluku Utara
Mobil Program Makan Bergizi NTB Diduga Disalahgunakan untuk Jemput Penumpang dan Wisata
Rupiah Menguat ke Rp16.986 Didorong Meredanya Ketegangan AS-Iran