MURIANETWORK.COM - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meluncurkan program 'Ngopeni Omah Nglakoni Sesarengan' sebagai strategi utama untuk mengatasi tantangan penyediaan rumah layak huni. Program yang dicanangkan di Banyumas ini mengedepankan kolaborasi lintas sektor guna menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah dan memperbaiki rumah yang tidak layak huni.
Kolaborasi sebagai Kunci Utama
Dalam peluncuran yang dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, ditekankan bahwa pendekatan gotong royong menjadi fondasi program ini. Taj Yasin mengakui, meski capaian penanganan backlog perumahan di Jawa Tengah sudah diakui secara nasional, tantangan ke depan tetap besar. Karena itu, sinergi antara pemerintah pusat, daerah, perbankan, dan lembaga filantropi harus terus diperkuat.
“Kita memberikan bantuan-bantuan seperti perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), lalu masyarakat yang tidak memiliki rumah, muncul program rumah subsidi untuk penanganan backlog yang dianggarkan oleh pemerintah pusat maupun di Jawa Tengah,” tuturnya.
Ia menambahkan, keberhasilan selama ini tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak. “(Penanganan) backlog yang ada di Jawa Tengah ini semakin baik. Kita juga mendapatkan apresiasi oleh pemerintah pusat sebagai provinsi terbanyak mengatasi backlog,” jelas Taj Yasin.
Target dan Realisasi yang Nyata
Komitmen Jawa Tengah di sektor ini bukan tanpa bukti. Provinsi ini bahkan meraih penghargaan tingkat nasional sebagai yang terbaik dalam pelaksanaan program perumahan. Prestasi itu didukung oleh realisasi konkret sepanjang 2025, di mana 17.513 unit rumah layak huni berhasil diselesaikan dengan penyerapan anggaran penuh sebesar Rp357,6 miliar.
Pencapaian tersebut terdiri dari beragam bentuk bantuan, mulai dari peningkatan kualitas rumah, pembangunan rumah sederhana sehat, hingga rumah bagi korban bencana. Untuk tahun 2026, target tetap ambisius dengan rencana penyediaan 10.231 unit rumah baru dan perbaikan.
Solusi Komprehensif dari Hulu ke Hilir
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, memaparkan bahwa program ini dirancang sebagai solusi menyeluruh. Bantuan yang disediakan sangat beragam, disesuaikan dengan kondisi spesifik masyarakat.
“Untuk MBR yang sudah memiliki lahan tetapi belum mampu membangun rumah, kami bekerja sama dengan BKK BPR melalui program Omah Lestari. Ini menjadi solusi nyata agar masyarakat bisa memiliki rumah layak,” papar Boedyo.
Skema bantuan lainnya meliputi rumah subsidi FLPP bagi yang belum punya rumah, perbaikan RTLH bagi yang rumahnya rusak, hingga relokasi bagi warga yang tinggal di kawasan berisiko. Semua ini, ditekankannya, dikerjakan secara kolektif.
“Semua ini kita lakukan sesarengan. Kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, pelaku usaha melalui CSR, hingga Baznas, dikemas dalam satu payung besar program Ngopeni Omah Nglakoni Sesarengan,” tegasnya.
Dukungan Tambahan untuk Kesejahteraan
Tak hanya fokus pada struktur fisik rumah, program ini juga dilengkapi dengan dukungan pendampingan untuk meningkatkan kualitas hidup penghuninya. Dalam kesempatan yang sama, diserahkan bantuan pemasangan listrik untuk ratusan rumah serta instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mendukung usaha mikro kecil dan menengah setempat. Langkah ini menunjukkan pendekatan yang holistik, di mana rumah layak huni juga diharapkan menjadi titik awal pemberdayaan ekonomi keluarga.
Boedyo berharap program ini dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat yang membutuhkan. “Ini adalah program solusi. Monggo masyarakat ikut menyebarluaskan dan segera berkonsultasi jika memiliki persoalan perumahan,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Persebaya Tumbang dari Bhayangkara, Rekor 13 Laga Tak Terkalahkan Terhenti
Pemerintah Alihkan Fokus Ketahanan Pangan dari Beras ke Perikanan
Menteri AS Kritik Kinerja PBB, Sebut Tak Berperan dalam Perang Gaza
Kuasa Hukum Ungkap Sopir Inara Rusli Diduga Ambil dan Jual Data CCTV