Target besarnya adalah menciptakan produk substitusi impor yang dapat memperkuat ketahanan industri domestik. Dalam hal pendanaan, Bahlil secara khusus menyoroti peran investor dan perbankan dalam negeri.
Proyeksi Jangka Panjang dan Dampak Ekonomi
Kebijakan hilirisasi dirancang bukan hanya untuk jangka pendek, melainkan sebagai sebuah cetak biru ekonomi hingga tahun 2040. Program ini diproyeksikan mampu menarik investasi yang sangat besar, mencapai sekitar USD618 miliar. Mayoritas investasi tersebut, sekitar USD498,4 miliar, diperkirakan akan mengalir ke subsektor mineral dan batubara.
Dampak ekonominya pun diharapkan luar biasa. Proyeksi pemerintah menunjukkan potensi ekspor hasil hilirisasi sebesar USD857,9 miliar, kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar USD235,9 miliar, serta terciptanya lebih dari 3 juta lapangan kerja baru. Angka-angka ini menggambarkan skala ambisi dan potensi transformasi yang hendak dicapai melalui langkah stop ekspor bahan mentah dan percepatan industri pengolahan.
Dengan demikian, kajian untuk menghentikan ekspor timah dan komoditas lain merupakan bagian dari sebuah perencanaan besar. Kebijakan ini tidak hanya sekadar larangan, tetapi lebih pada upaya sistematis membangun fondasi industri yang lebih kokoh, mandiri, dan berdaya saing untuk masa depan Indonesia.
Artikel Terkait
Hakim Federal Hentikan Sementara Proyek Ballroom Mewah Trump di Gedung Putih
Bandara Ngurah Rai Layani 1,14 Juta Penumpang Saat Posko Lebaran 2026
Indonesia Desak DK PBB Gelar Sidang Darurat Usai Tiga Pasukan Perdamaiannya Gugur di Lebanon
Swedia Lolos ke Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Polandia 3-2 dalam Drama Play-off