Di hadapan para perwira Polri, Presiden Prabowo Subianto menyentuh isu yang kerap mengemuka: tuduhan pelanggaran HAM terhadap anggota TNI. Ia tampak tak habis pikir dengan anggapan itu.
"Jenderal-jenderal kita yang paling hebat, paling jago, dimaki-maki," ujarnya, suaranya terdengar tegas.
"Dituduh penjahat perang, dituduh melanggar HAM."
Pernyataan itu disampaikannya Jumat lalu, dalam acara peresmian SPPG Polri se-Indonesia di Polsek Palmerah, Jakarta. Menurutnya, catatan sejarah TNI patut dipertimbangkan. Prabowo lantas membandingkan. Ia menyebut institusi itu tak pernah menargetkan tempat-tempat vital sipil dalam operasinya.
"Rasanya TNI nggak pernah "ngebom" rumah sakit," katanya, disusul dengan contoh lain.
"Selama sejarahnya TNI, rasanya TNI nggak pernah bom panti asuhan, sekolah, bom gereja atau masjid."
Di sisi lain, Prabowo juga menyoroti sikap sejumlah negara Barat. Mereka getol mengkampanyekan hak asasi, tapi tindakannya kerap berbeda. Ia tak mau berkomentar panjang lebar, namun sindirannya jelas.
"Negara-negara barat yang "ngajarin" HAM ke kita, saya nggak mau banyak komentar lagi lah, Anda tahu maksud saya."
Lalu, dengan sedikit sentuhan bahasa Jawa, ia menutup kritiknya. "Jadi banyak kalau istilah dulu kita "jarkoni, iso ngajar, ora iso ngelakoni"."
Artikel Terkait
Mediasi TNI-Polri Selesaikan Keributan di Mappi Papua
Siswi SMP di Gresik Jadi Korban Sekap dan Perkosaan, Kasus Terungkap Setahun Kemudian
Presiden Prabowo Resmikan 1.179 Satuan Pelayanan Gizi dan 18 Gudang Pangan
Jaksa Tuntut Anak Buronan Riza Chalid 18 Tahun Penjara dan Ganti Rugi Rp13,4 Triliun