Pemerintah Pacu Industri Halal Jadi Strategi Nasional untuk Menangi Pasar Global

- Kamis, 12 Februari 2026 | 18:15 WIB
Pemerintah Pacu Industri Halal Jadi Strategi Nasional untuk Menangi Pasar Global

MURIANETWORK.COM - Pemerintah Indonesia menegaskan pengembangan industri halal sebagai strategi nasional untuk memenangkan persaingan dagang global. Pernyataan ini disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam Metro TV Sharia Economic Forum di Jakarta, Kamis (12/2/2026). Forum yang mengusung tema "Mendorong Pengembangan Industri Halal" ini menyoroti langkah-langkah percepatan yang diambil agar Indonesia tak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pusat produksi dan distribusi produk halal dunia.

Produk Halal: Dari Niche Menjadi Arus Utama Global

Dalam paparannya, Menteri Agus Gumiwang Kartasasmita menggarisbawahi pergeseran signifikan dalam pasar global. Produk halal, yang dulu sering dianggap sebagai segmen khusus, kini telah bertransformasi menjadi komoditas dengan daya tarik luas. Pertumbuhannya didorong oleh tren gaya hidup sehat dan meningkatnya kesadaran konsumen, tidak hanya di negara-negara dengan mayoritas muslim, tetapi juga di berbagai belahan dunia lainnya.

“Produk halal kini telah menjadi komoditas global dengan pertumbuhan signifikan,” ujarnya.

Menurutnya, tren gaya hidup sehat dan meningkatnya kesadaran halal di berbagai negara mendorong perluasan pasar ekspor.

Merespons peluang ini, pemerintah tidak tinggal diam. Kementerian Perindustrian telah membentuk Pusat Pengembangan Industri Halal sejak 2021 sebagai wadah koordinasi dan inovasi. Langkah strategis lainnya adalah penyusunan peta jalan industri halal untuk periode 2025–2029, yang memfokuskan penguatan pada lima subsektor manufaktur andalan: makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, kulit dan alas kaki, kimia dan farmasi, serta perlengkapan rumah tangga.

Modal Kuat dan Tantangan yang Harus Diatasi

Di balik optimisme tersebut, para pelaku industri dan pembuat kebijakan menyadari adanya sejumlah tantangan klasik yang masih membelit. Ketergantungan yang tinggi pada impor bahan baku kritis, seperti gelatin, enzim, dan flavor, dinilai melemahkan struktur rantai pasok dalam negeri. Hal ini menjadi titik rawan yang dapat menggerus daya saing harga produk akhir.

Tantangan lain yang kerap dikeluhkan adalah proses sertifikasi halal. Banyak pihak menilai prosedur yang ada masih terlalu rumit, memakan waktu panjang, dan relatif mahal jika dibandingkan dengan standar di beberapa negara pesaing. Penyederhanaan birokrasi dalam hal ini menjadi pekerjaan rumah mendesak untuk mendongkrak iklim berusaha.

Meski demikian, posisi Indonesia sebenarnya cukup kuat. Analisis terhadap indikator Manufacturing Value Added (MVA) menunjukkan bahwa struktur manufaktur nasional lebih matang dan beragam dibandingkan beberapa negara pesaing. Keunggulan ini menjadi modal dasar yang berharga untuk membangun kedaulatan industri halal.

Akselerasi Menuju Pusat Industri Halal Dunia

Pengakuan bahwa Indonesia sempat terlambat merespons gelombang awal tren halal global justru memacu semangat untuk melakukan akselerasi. Targetnya ambisius: menjadikan Indonesia sebagai hub produksi dan distribusi produk halal dunia. Pencapaian target ini tidak bisa diraih dengan usaha setengah hati.

Secara keseluruhan, forum ini menghasilkan konsensus bahwa percepatan pengembangan industri halal bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Agenda utamanya meliputi penguatan rantai pasok domestik untuk mengurangi ketergantungan impor, reformasi menyeluruh terhadap sistem sertifikasi, peningkatan kapasitas dan teknologi manufaktur, serta penyusunan strategi ekspor yang lebih terarah dan agresif.

Hanya dengan langkah-langkah konkret dan terkoordinasi itulah Indonesia dapat mengubah potensi besar yang dimilikinya menjadi realitas, sehingga tidak tertinggal dalam kompetisi global yang semakin ketat.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar