Dari sisi pengamat, ada pandangan menarik. Arnaud Lorioz, CEO Deepcore, melihat gangguan impor Indonesia ini bisa berdampak ke kawasan. "Indonesia itu importir besar selama sepuluh tahun terakhir, ambil dari Brasil, Australia, sama Thailand. Sekarang, seluruh alur perdagangan itu kacau sejak tahun lalu," jelasnya.
Pendapat senada datang dari Claudiu Covrig dari Covrig Analytics. Dia menyoroti level persediaan yang rendah dan ketidakpastian alokasi ke depan. Dua hal itu, katanya, masih jadi momok yang bikin pasar resah.
Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Perindustrian belum memberikan tanggapan resmi.
Lantas, bagaimana data sebenarnya? Merujuk pada Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (Agri), baru tujuh dari sebelas anggotanya yang dapat lampu hijau. Izin itu baru turun akhir pekan lalu, dan itu pun hanya mencakup 41% dari total kuota tahun 2026.
Celakanya, sebagian izin yang turun itu telat datangnya. Keterlambatan kecil inilah, menurut sumber Bloomberg tadi, yang akhirnya memaksa beberapa pabrik tutup sementara. Operasional terpaksa dipotong, menunggu kepastian yang entah kapan datang.
Artikel Terkait
Polres Bogor Panen 10 Ton Jagung, Targetkan 500 Ton untuk Bulog
Bazar Rakyat di Monas Bagikan Kupon Rp500 Ribu untuk Dongkrak UMKM Pascalebaran
PSSI Awards 2026 Digelar Perdana, Jay Idzes dan Safira Ika Raih Pemain Terbaik
Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas Bahas Penyesuaian Kebijakan Ekonomi dan Energi