Harapannya tentu saja bisa meringankan penderitaan warga Gaza yang sudah terlalu lama kesulitan mengakses kebutuhan paling pokok. Bagi Prasetyo, misi ini lebih dari sekadar tugas internasional. Ini adalah bentuk solidaritas nyata dan dukungan teguh Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina.
"Setidaknya kita berharap akan mengurangi eskalasi konflik yang ada di Gaza, sehingga saudara-saudara kita berkurang penderitaannya," katanya. "Dengan sekarang proses tersebut, bantuan-bantuan makanan bisa masuk ke Gaza. Yang ini kita berharap meringankan beban saudara-saudara kita."
Di sisi lain, ada agenda besar lain yang menyertai. KTT perdana BoP rencananya digelar 19 Februari 2026 mendatang. Presiden Prabowo Subianto konon sudah menerima undangan resminya, meski kehadirannya masih perlu dikonfirmasi lagi.
Lalu, bagaimana dengan kewajiban iuran keanggotaan? Prasetyo mengaku Indonesia belum membayar. Tapi ia meminta publik memahami kompleksitasnya.
"Belum (bayar iuran). Nanti kan ada teknisnya, urusan negara itu kan tidak mudah," imbuhnya. "Ada prosedurnya, ada tahapannya."
Jadi, semuanya masih bergerak. Persiapan pasukan berjalan, sementara diplomasi dan prosedur kenegaraan terus dikerjakan. Satu hal yang pasti: komitmen Indonesia untuk perdamaian di Gaza sedang diuji dalam aksi nyata.
Artikel Terkait
Garena Bagikan 30 Kode Redeem Free Fire Gratis untuk 28 Maret 2026
LRT Sumsel Angkut Lebih dari 213 Ribu Penumpang Selama Libur Lebaran 2026
Mentan: Indonesia Jadi Rujukan Swasembada Pangan, Tapi Ancaman Impor Masih Nyata
Thailand dan Iran Sepakati Jaminan Keamanan untuk Kapal Tanker di Selat Hormuz