Semangat itu mengingatkan kita bahwa setiap orang yang berhadapan dengan kanker punya cerita dan kebutuhan yang berbeda. Perjuangannya unik.
Dan Rerie menekankan satu hal: kanker bukan cuma urusan medis belaka. Dampaknya menjalar ke mana-mana; sosial, psikologis, sampai ekonomi para penderitanya. Nah, dalam menghadapi kompleksitas ini, dibutuhkan upaya bersama. Semua pemangku kepentingan harus saling mendukung dengan menempatkan nilai kemanusiaan di pusat segala upaya.
Lalu, apa kuncinya? Rerie menyebut edukasi dan deteksi dini. Sebagian besar kasus, menurutnya, bisa ditangani lebih baik dengan dua hal itu, ditambah pemerataan akses layanan kesehatan.
Kebetulan, HUT ke-7 Pancacom yang dirayakan Minggu (8/2) lalu berdekatan dengan Hari Kanker Dunia yang jatuh pada 4 Februari. Ini momen yang pas, tegas Rerie, untuk membangun kesadaran kolektif yang lebih besar.
Momentum ini harus dimanfaatkan. Bukan sekadar seremonial, tapi untuk mendorong aksi nyata. Mulai dari mengubah pola hidup, menghapus stigma yang melekat, hingga mendesak kebijakan publik yang benar-benar berpihak pada pasien kanker. Semuanya perlu digerakkan, dan komunitas adalah salah satu penggerak utamanya.
Artikel Terkait
Tiga Naturalisasi Segera Perkuat Timnas Indonesia di FIFA Series 2026
Israel Klaim Tewaskan Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran di Bandar Abbas
Elf Penuh Pemudik Terjun ke Jurang di Banyumas Usai Hindari Motor, 10 Orang Terluka
Dua Anak Harimau Benggala di Kebun Binatang Bandung Mati Terinfeksi Virus Panleukopenia