Ankara tak tinggal diam. Turki secara resmi mengutuk keras serangan mematikan yang menimpa warga sipil pengungsi di Negara Bagian Kordofan Utara, Sudan. Peristiwa tragis itu terjadi pada Minggu, 8 Februari 2026.
Rasanya pilu sekali. Pemerintah Turki menyampaikan duka yang mendalam atas banyaknya korban jiwa dalam insiden tersebut. Serangan itu dilancarkan oleh Rapid Support Forces (RSF), yang secara sengaja menargetkan sebuah kendaraan yang penuh dengan pengungsi.
Lewat sebuah pernyataan resmi yang dikutip dari Anadolu Agency, Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan keprihatinannya.
“Kami mengetahui dengan duka mendalam bahwa banyak warga sipil kehilangan nyawa akibat serangan oleh RSF yang menargetkan kendaraan pembawa pengungsi di Negara Bagian Kordofan Utara, Sudan,"
Menurut keterangan pihak kementerian, kendaraan yang diserang itu sedang mengangkut keluarga-keluarga yang terpaksa kabur dari rumah mereka sendiri, menghindari peperangan yang tak kunjung reda.
Nada pernyataan Turki pun tegas. Mereka menilai aksi ini bukan sekedar pelanggaran kecil.
“Serangan ini merupakan pelanggaran yang terang-terangan dan serius terhadap hukum humaniter internasional terkait perlindungan warga sipil dan infrastruktur sipil dalam konflik bersenjata,”
Prinsipnya jelas: warga sipil dan fasilitas mereka sama sekali tidak boleh jadi sasaran, dalam keadaan apapun. “Kami dengan tegas mengecam serangan terhadap warga sipil,” tegas pernyataan itu lagi. Di sisi lain, Ankara juga mendesak diambilnya langkah konkret. Mereka menyerukan agar keselamatan korban konflik benar-benar dijamin.
“Kami menegaskan kembali seruan kami agar jalur aman dan tanpa hambatan bagi warga sipil dijamin, serta bantuan kemanusiaan dapat disalurkan tanpa halangan,”
Insiden di Kordofan Utara ini bukan yang pertama. Sehari sebelumnya, Sabtu, situasi sudah memanas. Pemerintah Sudan menuduh RSF melakukan serangan drone ke arah konvoi bantuan World Food Programme (WFP) di wilayah yang sama. Serangan itu konon merenggut korban jiwa dan menghancurkan pasokan bantuan yang sangat dibutuhkan.
Masih di hari Sabtu yang kelam, otoritas setempat mengumumkan angka yang menyayat hati: 24 warga sipil tewas, dengan banyak lagi yang luka-luka. Korban berasal dari kelompok rentan perempuan, anak-anak, dan orang tua. Mereka menjadi sasaran saat berada di dalam kendaraan pengungsi di kota Al-Rahad.
Konflik antara militer Sudan dan RSF ini, yang meledak sejak April 2023, sudah meninggalkan luka yang dalam. Ribuan orang tewas, jutaan lainnya terusir dari kampung halaman. Krisis kemanusiaan yang diakibatkannya termasuk salah satu yang terparah di dunia saat ini.
Secara geografis, kekuasaan terbelah. RSF disebut menguasai penuh lima negara bagian di Darfur barat, kecuali sebagian North Darfur. Sementara militer masih memegang kendali atas sebagian besar wilayah di 13 negara bagian lain, termasuk ibu kota Khartoum. Pertempuran sporadis masih terjadi, seperti yang dilaporkan militer Sudan akhir Januari lalu di wilayah Blue Nile.
Artikel Terkait
Polda Bali Bongkar Sindikat Judi Online India Beromzet Miliaran di Balik Kedok Wisatawan
Suraj Chavan, dari Buruh Harian hingga Pemenang Bigg Boss Marathi
Jepang dan Korea Selatan Pecah Dominasi, Juara Perdana BATC 2026
Riset Gartner: 32% Organisasi Alami Serangan AI, Keamanan Runtime Jadi Tantangan Utama