Prinsipnya jelas: warga sipil dan fasilitas mereka sama sekali tidak boleh jadi sasaran, dalam keadaan apapun. “Kami dengan tegas mengecam serangan terhadap warga sipil,” tegas pernyataan itu lagi. Di sisi lain, Ankara juga mendesak diambilnya langkah konkret. Mereka menyerukan agar keselamatan korban konflik benar-benar dijamin.
Insiden di Kordofan Utara ini bukan yang pertama. Sehari sebelumnya, Sabtu, situasi sudah memanas. Pemerintah Sudan menuduh RSF melakukan serangan drone ke arah konvoi bantuan World Food Programme (WFP) di wilayah yang sama. Serangan itu konon merenggut korban jiwa dan menghancurkan pasokan bantuan yang sangat dibutuhkan.
Masih di hari Sabtu yang kelam, otoritas setempat mengumumkan angka yang menyayat hati: 24 warga sipil tewas, dengan banyak lagi yang luka-luka. Korban berasal dari kelompok rentan perempuan, anak-anak, dan orang tua. Mereka menjadi sasaran saat berada di dalam kendaraan pengungsi di kota Al-Rahad.
Konflik antara militer Sudan dan RSF ini, yang meledak sejak April 2023, sudah meninggalkan luka yang dalam. Ribuan orang tewas, jutaan lainnya terusir dari kampung halaman. Krisis kemanusiaan yang diakibatkannya termasuk salah satu yang terparah di dunia saat ini.
Secara geografis, kekuasaan terbelah. RSF disebut menguasai penuh lima negara bagian di Darfur barat, kecuali sebagian North Darfur. Sementara militer masih memegang kendali atas sebagian besar wilayah di 13 negara bagian lain, termasuk ibu kota Khartoum. Pertempuran sporadis masih terjadi, seperti yang dilaporkan militer Sudan akhir Januari lalu di wilayah Blue Nile.
Artikel Terkait
China Protes Keras Penyusupan Perwira Jepang ke Kedutaan di Tokyo
Operasi Ketupat 2026 Resmi Ditutup, Angka Fatalitas Kecelakaan Turun 30,89 Persen
AS Ancam Serang Iran Lebih Keras Jika Tolak Proposal Gencatan Senjata
Mahfud MD Sebut Langkah KPK dalam Kasus Gus Yaqut Lincah dan Cerdik