Cuaca Ekstrem Warna Pemilu Jepang, LDP Diproyeksi Pertahankan Dominasi

- Minggu, 08 Februari 2026 | 13:50 WIB
Cuaca Ekstrem Warna Pemilu Jepang, LDP Diproyeksi Pertahankan Dominasi

MURIANETWORK.COM - Jepang menggelar pemilihan umum mendadak di tengah cuaca musim dingin yang ekstim, Minggu (8/2/2026). Pemilu ini dianggap sebagai ujian penting bagi Perdana Menteri Sanae Takaichi dan Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa, dengan hasil yang berpotensi memperkuat posisi politik mereka secara signifikan. Jajak pendapat menunjukkan LDP diprediksi akan mempertahankan mayoritas di parlemen, sebuah kemenangan yang dapat berdampak pada dinamika hubungan dengan China dan stabilitas pasar keuangan regional.

Proyeksi Kemenangan dan Warisan Politik

Berdasarkan sejumlah survei terakhir, Partai Demokrat Liberal pimpinan Takaichi diperkirakan akan dengan mudah meraih lebih dari 233 kursi yang dibutuhkan untuk mengamankan mayoritas di majelis rendah. Bahkan, beberapa analis dengan hati-hati memproyeksikan bahwa koalisi pemerintah berpeluang mendekati atau mencapai 310 kursi, yang berarti mayoritas dua pertiga. Capaian seperti itu akan menjadi yang terbaik bagi LDP sejak era mendiang Shinzo Abe pada 2017, sekaligus mengukuhkan posisi Takaichi sebagai penerus warisan politik Abe.

Kemenangan telak tersebut tidak hanya akan memperpanjang dominasi LDP yang telah berlangsung puluhan tahun, tetapi juga memberikan mandat yang kuat kepada Takaichi untuk menjalankan agenda politiknya. Dalam konteks geopolitik yang kompleks, mandat ini dapat diterjemahkan menjadi kebijakan luar negeri yang lebih tegas, termasuk yang berkaitan dengan China, serta kebijakan ekonomi yang berpotensi mempengaruhi sentimen investor.

Ujian di Tengah Hujan Salju

Proses demokrasi kali ini menghadapi tantangan tak terduga dari alam. Hujan salju lebat menyelimuti berbagai wilayah, termasuk Tokyo dan area yang jarang mengalaminya, mengubah hari pemilihan menjadi sebuah ujian dedikasi bagi para pemilih. Ini merupakan pertama kalinya dalam beberapa dekade Jepang menggelar pemilu nasional di bulan Februari dengan kondisi cuaca sedemikian rupa.

Di tengah lapisan salju yang menutupi jalan, antusiasme sebagian warga tetap menyala. Seperti yang diungkapkan seorang wanita berusia 50 tahun di Tokyo, yang hanya memperkenalkan diri dengan nama belakang Kondo.

"Saya rasa penting untuk datang, agar kita juga bisa berpartisipasi dalam politik dengan baik," tuturnya.

Namun, bagi sebagian lain, perjalanan ke tempat pemungutan suara (TPS) menjadi perjuangan tersendiri. Seorang pria berusia tujuh puluhan di Prefektur Aomori, wilayah utara Jepang, menggambarkan kesulitan yang dihadapinya.

"Saya kesulitan menemukan jalan menuju tempat pemungutan suara karena salju menumpuk di sekitarnya, dan sangat sulit untuk sampai di sini dengan kondisi jalan yang buruk," jelasnya.

Dengan nada sedikit masukan, pria tersebut menambahkan, "Saya berharap pemilihan diadakan di musim tanpa salju."

Dampak dan Harapan ke Depan

Meskipun cuaca menjadi faktor penghambat partisipasi, gelaran pemilu ini tetap menjadi momen penentu. Hasil akhirnya tidak hanya akan membentuk peta politik domestik Jepang untuk tahun-tahun mendatang, tetapi juga mengirimkan sinyal yang jelas kepada komunitas internasional. Kekuatan mandat yang diperoleh pemerintah baru akan sangat mempengaruhi pendekatan negara itu dalam menghadapi tantangan keamanan regional, hubungan dengan kekuatan global, serta navigasi di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Dengan penghitungan suara yang masih berlangsung, seluruh pihak kini menunggu konfirmasi akhir dari kotak suara. Hasilnya akan menjawab apakah prediksi kemenangan besar bagi LDP terwujud, dan bagaimana kepemimpinan Takaichi akan membawa Jepang menghadapi periode berikutnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar