Delapan Buku Jejak Pemikiran Yusril Ihza Mahendra Diluncurkan di Ulang Tahun ke-70

- Sabtu, 07 Februari 2026 | 17:05 WIB
Delapan Buku Jejak Pemikiran Yusril Ihza Mahendra Diluncurkan di Ulang Tahun ke-70

MURIANETWORK.COM - Peluncuran delapan buku yang merekam jejak pemikiran dan pengabdian Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra menjadi momentum refleksi penting bagi perjalanan hukum dan ketatanegaraan Indonesia. Acara yang digelar dalam rangka memperingati ulang tahun ke-70 tokoh tersebut dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara dan tokoh masyarakat, menandai kontribusi panjang Yusril dalam dinamika politik dan konstitusi nasional.

Dokumentasi Pemikiran dari Orde Baru hingga Reformasi

Kedelapan buku tersebut menghadirkan potret utuh pergulatan ide dan peran strategis Yusril, menjangkau periode sejak era Orde Baru, bergulirnya Reformasi, hingga menghadapi tantangan demokrasi masa kini. Karya-karya ini tidak sekadar menjadi dokumentasi sejarah, tetapi juga bacaan yang relevan di tengah menguatnya kembali perdebatan publik tentang konstitusi, supremasi hukum, dan masa depan demokrasi Indonesia.

Dalam keterangannya, Sabtu (7/2/26), Bamsoet menyatakan acara peluncuran buku ini merupakan peristiwa intelektual yang signifikan.

"Peluncuran delapan buku ini adalah peristiwa intelektual yang penting bagi bangsa. Kita diajak menelusuri jejak pemikiran dan perjuangan Prof. Yusril Ihza Mahendra secara utuh, jujur, dan apa adanya, dari ruang akademik hingga praktik kenegaraan. Buku-buku ini merekam bagaimana gagasan hukum dan politik diuji oleh zaman, kekuasaan, serta dinamika demokrasi Indonesia," tuturnya.

Konsistensi Nalar Konstitusional di Tengah Gejolak

Bamsoet menilai Yusril sebagai salah satu pemikir hukum tata negara yang konsisten menjaga nalar konstitusional, bahkan ketika dihadapkan pada perubahan politik yang kerap bergejolak. Melalui buku-buku itu, publik dapat menyelami perdebatan mendasar tentang konstitusi, relasi agama dan negara, serta penempatan hak asasi manusia dalam kerangka keindonesiaan yang konkret. Pemikiran-pemikiran tersebut dinilai masih sangat kontekstual, terutama saat wacana amandemen konstitusi dan penguatan kelembagaan negara kembali mengemuka.

Lebih lanjut, Bamsoet menggambarkan sosok Yusril sebagai akademisi yang berani turun ke gelanggang kekuasaan tanpa kehilangan integritas keilmuannya.

"Pak Yusril adalah contoh akademisi yang berani turun ke panggung kekuasaan tanpa meninggalkan integritas keilmuannya. Dalam buku-buku ini terlihat jelas bagaimana prinsip hukum, konstitusi, dan demokrasi terus menjadi pegangan beliau. Bahkan ketika harus berhadapan dengan tekanan politik yang keras dan situasi nasional yang kompleks," ujarnya.

Warisan Pemikiran untuk Generasi Penerus

Buku-buku yang diluncurkan tidak hanya memuat refleksi pribadi, tetapi juga analisis mendalam dari para kolega, murid, dan sahabat intelektual Yusril. Mulai dari autobiografi, testimoni, hingga kajian akademik, seluruhnya memperlihatkan upaya menjaga keseimbangan yang sulit antara idealisme dan realitas politik. Konsistensi ini dianggap sebagai pembelajaran berharga bagi generasi muda yang hidup di era disrupsi informasi dan politik.

Bamsoet menekankan pentingnya teladan intelektual seperti ini bagi pembangunan bangsa ke depan.

"Generasi muda membutuhkan teladan intelektual yang berani berpikir jernih dan bersikap tegas. Delapan buku ini memberi contoh nyata bagaimana seorang pemikir hukum berkontribusi bagi bangsa tanpa harus terjebak pada kepentingan sesaat. Ini warisan pemikiran yang sangat berharga bagi masa depan ketatanegaraan Indonesia," jelasnya.

Gagasan yang Diwujudkan dalam Praktik Kenegaraan

Kontribusi Yusril, sebagaimana terekam dalam buku-buku tersebut, tidak berhenti pada tataran teori. Keterlibatannya dalam berbagai jabatan publik menunjukkan konsistensi antara gagasan yang dikemukakan dan praktik yang dijalankan. Catatan perjalanan karirnya mengungkap pergulatan menghadapi tekanan politik dan upaya menjaga marwah konstitusi di tengah perubahan zaman yang terus bergulir.

Mengakhiri pernyataannya, Bamsoet menyimpulkan pesan kuat dari seluruh karya dan perjalanan Yusril.

"Ulang tahun ke-70 ini adalah penanda dedikasi panjang seorang negarawan dan intelektual. Melalui buku-buku ini, kita diingatkan bahwa membangun negara hukum membutuhkan ketekunan berpikir, keberanian bersikap, serta kesetiaan pada konstitusi. Itulah pesan kuat yang saya tangkap dari seluruh karya Prof. Yusril Ihza Mahendra," pungkas Bamsoet.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar