Jakarta - Masa tanggap darurat untuk bencana tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, resmi berakhir hari ini, Jumat (6/2/2026). Tepat empat belas hari setelah hujan ekstrem mengguyur dan memicu lereng Gunung Burangrang yang labil itu amblas.
Namun begitu, operasi pencarian korban belum sepenuhnya usai. Basarnas memastikan kegiatan mereka akan dilanjutkan, meski status darurat dari pemda dicabut. Tantangannya tetap sama: cuaca dan material longsoran yang tebal dan luas. Sementara di sisi lain, pemerintah sudah mulai menggeser fokus ke tahap pemulihan dan rencana relokasi warga.
Dampak kejadian ini cukup parah. Sentral bencana ada di Desa Pasirlangu, lereng Burangrang itu. Data terbaru menyebutkan 80 rumah terdampak. Rinciannya, 46 unit mengalami kerusakan ringan hingga parah. Sementara 34 rumah lainnya berada di zona merah, artinya sangat terancam dan kemungkinan besar harus ditinggalkan.
Korban jiwa masih menjadi catatan pilu. Berdasarkan rilis DVI Polri per siang tadi, dari 77 kantong jenazah yang ditemukan, 74 korban telah berhasil diidentifikasi. Sisanya, tiga kantong, masih dalam proses identifikasi lebih lanjut.
Pencarian selama ini bukan pekerjaan mudah. Bayangkan, lebih dari 3.100 personel gabungan dikerahkan. Mereka dari Basarnas, TNI, Polri, plus relawan. Ditemani puluhan alat berat, drone, dan anjing pelacak. Tapi medannya sangat berat. Area longsoran mencapai 15,7 hektare. Kondisi tanahnya masih labil, rawan bergerak lagi. Cuaca yang tak menentu seringkali memaksa operasi dihentikan sementara, demi keselamatan tim di lapangan.
Untuk membantu warga yang selamat, pemerintah telah menyalurkan bantuan tunai. Besarannya Rp10 juta untuk setiap keluarga terdampak, dan Rp25 juta untuk ahli waris korban meninggal.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan koordinasi dengan Pemkab Bandung Barat untuk persiapan relokasi telah dilakukan. Menurutnya, alih fungsi lahan turut berkontribusi pada tragedi ini.
"Kemudian setelah itu kota akan segera relokasi dan wilayah itu akan saya hutankan dan konsep untuk bangun rumahnya sesuai dengan lingkungan, tanahnya Insya Allah kita penuhi,"
Jadi, meski masa darurat berakhir, pekerjaan rumah masih panjang. Mulai dari pencarian terbatas, pemulihan trauma, hingga menata ulang permukiman yang lebih aman di kemudian hari.
Artikel Terkait
PGN Catat Keterikatan Karyawan Capai 87,74% dan Turnover di Bawah 3%
Delapan Buku Pemikiran Yusril Ihza Mahendra Diluncurkan, Gratis untuk Publik
Presiden Prabowo Hadiri Pengukuhan Pengurus MUI 2025-2030 dan Munajat Nasional di Istiqlal
Mendagri Tito Karnavian Laporkan Pemulihan Infrastruktur Pascabencana Sumatera, Sejumlah Titik Masih Jadi Tantangan