MURIANETWORK.COM - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menekankan pentingnya mengintegrasikan kearifan lokal dalam upaya pelestarian lahan basah. Pernyataan ini disampaikan dalam peringatan Hari Lahan Basah Sedunia di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan, Kalimantan Utara, Sabtu (7 Februari 2026). Dalam acara yang dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kanada dan Gubernur Kalimantan Utara itu, Raja Juli menegaskan bahwa pengetahuan tradisional masyarakat pesisir merupakan warisan berharga yang harus dilestarikan dan dijadikan dasar pengelolaan lingkungan.
Menggali Kearifan Lokal untuk Konservasi Modern
Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, Raja Juli Antoni melihat pengetahuan tradisional bukan sebagai sesuatu yang usang, melainkan sebagai fondasi yang kokoh. Menurutnya, masyarakat lokal telah mengembangkan pemahaman mendalam tentang ekosistem lahan basah secara turun-temurun.
“Masyarakat kita sejak dulu sudah sangat terbiasa dengan sistem pasang surut, sistem pertanian di lahan basah, hingga memahami pola migrasi burung di kawasan basah sejak zaman nenek moyang,” jelasnya.
Dia menambahkan bahwa kearifan semacam ini perlu diinstitusionalisasikan untuk melengkapi temuan-temuan ilmiah dari universitas dan lembaga penelitian.
Visi Lahan Basah sebagai Pusat Biodiversitas dan Ekonomi
Menteri Kehutanan tidak hanya memandang lahan basah sebagai wilayah konservasi semata, tetapi juga sebagai sumber kehidupan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitarnya. Visinya adalah menciptakan kawasan yang multifungsi.
“Kita berharap lahan basah bukan hanya tanah yang basah, tetapi kawasan dengan biodiversitas yang sangat tinggi, sumber ekonomi yang baik. Sekaligus memiliki kemampuan penyerapan karbon yang sangat besar,” ujar Raja Juli.
Pernyataan ini menggarisbawahi fungsi strategis lahan basah, mulai dari penjaga keanekaragaman hayati, penopang ekonomi lokal, hingga perannya yang krusial dalam mitigasi perubahan iklim sebagai penyerap karbon.
Komitmen Indonesia dan Kolaborasi Internasional
Sebagai negara dengan kekayaan lahan basah tropis terbesar di dunia, Raja Juli mengingatkan bahwa Indonesia memikul tanggung jawab besar. Dia menyebutkan bahwa Indonesia telah mendaftarkan delapan situs lahan basahnya ke dalam Konvensi Ramsar, sebuah komitmen internasional untuk perlindungan.
“Sekitar 23 persen mangrove dunia berada di Indonesia, dan kita juga memiliki gambut tropis terbesar di dunia. Ini adalah titipan dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang harus kita jaga bersama-sama,” tuturnya.
Komitmen ini mendapat dukungan dari mitra internasional. Alice Birnbaum, perwakilan Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia, menyatakan kebanggaan atas kerja sama yang telah terjalin. Dia menegaskan bahwa perlindungan ekosistem harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.
“Mangrove ini tidak hanya indah tapi juga diakui secara global sebagai penopang keanekaragaman hayati dan pondasi bagi ekosistem. Kami berkomitmen untuk melindungi ekosistem sekaligus memperkuat masyarakat pesisir. Kita di sini hadir ini menjadi babak baru menuju keberlanjutan,” ungkap Alice Birnbaum.
Kolaborasi yang dibangun ini menunjukkan bahwa upaya menjaga warisan alam Indonesia membutuhkan sinergi dari berbagai pihak, baik nasional maupun global, dengan menghargai pengetahuan yang telah hidup dan berkembang di dalam komunitas lokal selama berabad-abad.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Apresiasi MUI sebagai Pilar Stabilitas dan Penanganan Krisis
Presiden Prabowo Serukan Persatuan dan Keteladanan Umat Islam di Pengukuhan MUI
Dua Laga Krusial Wajib Dimenangkan Borneo dan Persebaya di BRI Super League
Israel Serang Gedung di Gaza, Klaim Fasilitas Militer Hamas