Ribuan Siswa Bandung Alami Gangguan Kesehatan Mental, Pemerintah Buka Rekrutmen Guru Sekolah Garuda

- Sabtu, 07 Februari 2026 | 05:45 WIB
Ribuan Siswa Bandung Alami Gangguan Kesehatan Mental, Pemerintah Buka Rekrutmen Guru Sekolah Garuda

Jumat lalu, 6 Februari, diwarnai sederet peristiwa humaniora yang cukup menyita perhatian. Dari isu pendidikan, kesehatan mental, hingga gelaran keagamaan besar-besaran. Mari kita runut kembali beberapa berita utama yang terjadi.

Dimulai dari dunia pendidikan. Pemerintah, lewat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, ternyata sedang membuka lowongan cukup besar. Mereka mencari kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan untuk empat Sekolah Garuda baru. Rekrutmen ini menyediakan lebih dari 200 formasi, menyongsong tahun ajaran 2026/2027 nanti.

Harapannya jelas: mendapatkan guru-guru terbaik.

"Semoga kita akan mendapatkan talenta-talenta guru yang sangat baik untuk berkenan bergabung di dalam sekolah ini," ujar Ahmad Najib Burhani, Dirjen Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek.

Namun di sisi lain, persoalan pelajar di kota lain justru memprihatinkan. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkap data yang cukup mencengangkan. Sepanjang 2025, sekitar 10 ribu siswa di kota itu didapati mengalami gangguan kesehatan mental. Angka itu didapat dari survei Dinas Kesehatan yang menjangkau pelajar SD sampai SMA.

"10.000 siswa alami masalah kesehatan mental," kata Farhan, menyebutkan temuan tersebut.

Sementara itu, di ranah kesehatan fisik, BPJS Kesehatan kembali menegaskan aturan penting. Lembaga itu menyatakan rumah sakit tidak boleh menolak pasien yang membutuhkan penanganan darurat. Aturan ini berlaku untuk semua peserta JKN, tak terkecuali mereka yang status Penerima Bantuan Iuran (PBI)-nya sedang nonaktif.

"Jadi memang apapun itu segmen pesertanya, tidak boleh menolak untuk pengobatan, apalagi emergency," tegas Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah. "Ini sudah sesuai aturan."

Isu kesejahteraan sosial juga mencuat, terutama usai tragedi memilukan di Nusa Tenggara Timur. Sebagai respons, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mendesak pemerintah daerah untuk segera memperbaiki data warga miskin. Tujuannya agar bantuan sosial bisa tepat sasaran dan mencegah kejadian serupa terulang.

"Saya meminta kepada pemda, kepada dinas sosial, untuk proaktif melakukan pendataan," katanya. "Supaya pemerintah bisa mengintervensi bantuan yang sesuai kebutuhan masyarakat."

Di tengah berbagai berita berat itu, ada pula gelaran keagamaan yang membesarkan hati. Menjelang peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama, antusiasme jamaah ternyata luar biasa. Acara Mujahadah Kubro yang digelar PWNU Jawa Timur di Stadion Gajayana, Malang, sudah diikuti lebih dari 100 ribu orang bahkan dua hari sebelum H-nya.

"Hingga H-2 tercatat jamaah mencapai 104.541 orang," jelas Sekretaris PWNU Jatim, HM Faqih. "Atau sekitar 105 ribu orang dengan 1.100 lebih bus serta ribuan kendaraan lainnya."

Begitulah kira-kira potret Jumat yang penuh dinamika. Setiap berita membawa ceritanya sendiri, mencerminkan kompleksitas dan semangat masyarakat yang terus bergerak.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar