Macan Tutul Jawa Pincang di Sanggabuana, Dua Pelaku Pemburu Teridentifikasi

- Selasa, 27 Januari 2026 | 11:20 WIB
Macan Tutul Jawa Pincang di Sanggabuana, Dua Pelaku Pemburu Teridentifikasi

Seekor macan tutul jawa terlihat pincang di video yang beredar luas. Keadaannya menyayat hati. Binatang langka itu kesakitan berjalan di hutan Pegunungan Sanggabuana, Karawang, dan diduga kuat menjadi korban aksi pemburu.

Tak butuh waktu lama, identitas para pelaku akhirnya berhasil diungkap. Laporan pun sudah sampai ke meja polisi.

Merespon laporan itu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat langsung bergerak cepat. Mereka memberangkatkan tim khusus untuk turun ke lokasi dan mengusut tuntas kejadian ini.

Plt Kepala BBKSDA Jabar, Ammy Nurwati, membeberkan langkah yang diambil.

"Kami sudah perintahkan Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) untuk segera berkoordinasi. Mereka diwakili Kepala Seksi KSDA Wilayah IV Purwakarta, Rechan Ahmad Sine, yang akan bekerja sama dengan Ketua Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), Bernard, untuk mengumpulkan fakta," ujar Ammy, Selasa (27/1/2026).

Menurut investigasi awal, ada dua orang yang dicurigai. Mereka terekam kamera pengintai atau kamera trap, persis beberapa hari setelah video macan tutul pincang itu beredar. Yang membuatnya semakin mencurigakan, kedua orang itu terlihat membawa senjata api dan juga golok.

"Lokasi kejadiannya bisa diakses dari Kampung Tipar dan Kampung Cintalaksana," tambah Ammy, merinci titik temuan.

Namun begitu, kabar baiknya adalah proses identifikasi pelaku berjalan cukup lancar. Teknologi pengenalan wajah atau face recognition digunakan untuk memastikan siapa mereka.

"Identitas kedua pelaku sudah kami kantongi," tegas Ammy.

Ia juga menjelaskan bahwa laporan resmi telah disampaikan ke Polres Karawang. Laporan itu merupakan hasil koordinasi dari beberapa pihak, yaitu SCF, Perum Perhutani, TNI AD, dan tentu saja BBKSDA Jawa Barat sendiri. Semuanya berharap kasus ini segera diproses secara hukum.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar