Angka kematian akibat tuberkulosis di Indonesia ternyata masih sangat mengkhawatirkan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin baru-baru ini mengungkap fakta pahit: setiap tahun, penyakit yang dikenal sebagai TBC ini merenggut nyawa sekitar 136 ribu warga negara kita. Menurutnya, kasus TBC di tanah air tergolong tinggi dan menjadi beban kesehatan yang serius.
Dalam sebuah rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Senayan, Jakarta, Budi menggambarkan situasinya dengan bahasa yang gamblang. Dia ingin semua pihak menyadari urgensi masalah ini.
“Jadi setiap saya ngomong 5 menit, yang meninggal dua di Indonesia karena penyakit tuberkulosis ini. Obatnya ada, sangat ampuh, cuma nggak pernah selesai-selesai,” ujar Budi, menyiratkan rasa frustrasinya.
Penyakit ini bukan hal baru. Menurut penuturannya, TBC sudah ada sejak ribuan tahun lalu, tapi hingga kini masih jadi momok. Estimasi penderitanya mencapai satu juta orang per tahun, dengan korban jiwa yang mencapai angka 136 ribu seperti tadi.
Lalu, apa akar masalahnya? Budi menyoroti satu hal krusial: deteksi dini yang sangat rendah. Ini bukan cuma soal fasilitas, tapi juga persoalan sosial. Rupanya, masih banyak orang yang merasa malu saat diketahui mengidap TBC. Alhasil, mereka enggan memeriksakan diri.
“Kenapa nggak pernah selesai? Karena Indonesia itu ranking dua di dunia, sama seperti kusta. Orang malu kalau ketahuan tuberkulosis. Jadi screening-nya jelek,” tegasnya.
Padahal, konsekuensinya bisa meluas. TBC adalah penyakit menular. Satu orang yang tidak terdeteksi berpotensi menyebarkan bakteri ke banyak orang di sekitarnya tanpa disadari.
“Padahal ini penyakit menular, kalau dia nggak ketahuan dia TBC, dia kan nularin ke mana-mana. Jadi sebabnya kita masifkan screening-nya,” sambung Budi.
Menyikapi hal ini, Kemenkes berencana mengambil langkah agresif. Pemerintah akan memasukkan pemeriksaan TBC ke dalam layanan cek kesehatan gratis di puskesmas. Targetnya jelas: menjangkau ratusan juta orang untuk diskrining. Upaya masif ini diharapkan bisa memutus mata rantai penularan dan menurunkan angka kematian yang selama ini terus membayangi.
Artikel Terkait
Rina Nose Ungkap Post-Op Blues Usai Operasi Plastik Hidung
Wakapolri Resmikan 17 Jembatan untuk Perkuat Konektivitas di Kolaka
Wamen Sosial Dorong Kolaborasi Pemerintah-Swasta untuk Tuntaskan Kemiskinan Ekstrem 2026
Kemensos Salurkan Bantuan Rp 16,7 Miliar untuk Korban Banjir Langkat