Ketegangan di Timur Tengah memang tak pernah benar-benar reda. Kali ini, hubungan rumit antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali memanas. Siklus ini sebenarnya sudah biasa, tapi ada yang berbeda. Ada mobilisasi militer AS, operasi Mossad, dan gelombang protes dalam negeri Iran yang bikin situasi jadi jauh lebih ruwet ketimbang sekadar konflik regional biasa.
Di permukaan, isunya adalah hak asasi dan demokrasi. Tapi kalau ditelisik lebih dalam, ini soal operasi rahasia, kalkulasi geopolitik, dan perebutan pengaruh. Washington bilang mereka cuma membela aspirasi rakyat Iran. Namun bagi Teheran, itu cuma kedok lama untuk intervensi yang mengancam kedaulatan mereka. Di sinilah perang bayangan shadow war antara dua kubu itu kembali berlangsung.
Dengan Donald Trump kembali berkuasa dan membawa agenda luar negeri yang lebih garang, AS dikabarkan sedang mempertimbangkan banyak cara untuk "mendukung" protes di Iran sekaligus menekan pemerintahannya. Menurut laporan Axios dan sumber dari Iran International, dalam seminggu terakhir Washington sudah mengirimkan banyak aset militer ke kawasan. Kapal perang, pesawat, dan perlengkapan pendukung lainnya terus berdatangan. Semua ini seperti pertanda bahwa operasi yang lebih terarah mungkin akan diluncurkan dalam waktu dekat.
Ada beberapa opsi strategis yang konon sedang dimatangkan. Mulai dari mengerahkan gugus tugas kapal induk, melancarkan serangan siber ke infrastruktur Iran, sampai kampanye informasi untuk menggerogoti legitimasi pemerintah. Tujuannya jelas: melumpuhkan kemampuan Iran tanpa memicu perang terbuka. Intinya, AS ingin menciptakan tekanan maksimal, tapi tanpa harus mengaku sedang berperang.
Yang menarik, peran Israel kali ini tak langsung terlihat di garis depan. Menurut sumber dekat militer AS, Israel baru akan bergerak jika operasi AS sudah dimulai, atau jika Iran lebih dulu menunjukkan tanda-tanda serangan. Ini membuat Tel Aviv terhindar dari risiko awal, sekaligus memberi ruang aman bagi Mossad untuk beroperasi di balik layar.
Protes, Tuduhan, dan Operasi di Bawah Tanah
Gelombang demonstrasi di Iran dipicu oleh nilai Rial yang anjlok dan kebijakan ekonomi yang makin menyulitkan warga. Tapi kembalinya Trump dengan kebijakan "tekanan maksimum" sanksi ekonomi global dan pembatasan perdagangan jelas memperburuk keadaan. Harga-harga melambung, lapangan kerja menyempit, dan masyarakat pun resah. Wajar saja protes menjalar ke berbagai kota.
Tapi pemerintah Iran punya pandangan lain. Bagi mereka, ini bukan gerakan murni. Ada campur tangan asing yang terlihat jelas: kampanye daring yang terkoordinasi, seruan dari tokoh pro-monarki di luar negeri, sampai pernyataan provokatif pejabat AS dan Israel. Teheran menuding "protes damai" itu sudah disusupi kelompok bersenjata dengan agenda intelijen. Belakangan, aparat keamanan melaporkan aksi kekerasan yang makin menjadi, dari pembakaran fasilitas militer sampai penikaman terhadap petugas.
Di sisi lain, korban jiwa yang berjatuhan akibat tindakan aparat memicu kecaman internasional. Pejabat AS dan Israel yakin jumlahnya jauh lebih besar dari angka resmi yang dirilis lembaga HAM Iran, HRANA. Tapi bagi Teheran, narasi kemanusiaan dari Barat itu cuma pembenaran untuk operasi destabilisasi yang sedang berjalan.
Eksekusi terhadap Ali Ardestani yang dituduh mata-mata Israel mengirimkan pesan keras. Media peradilan Iran melaporkan, eksekusi terhadap tersangka mata-mata Mossad meningkat tajam tahun ini. Ini sejalan dengan lonjakan sabotase, serangan siber, dan infiltrasi yang selalu dituduhkan Iran ke Israel. Pasca serangan Israel ke fasilitas nuklir Iran tahun lalu, Mossad disebut meningkatkan aktivitasnya di dalam negeri Iran.
Beberapa sumber keamanan Iran bahkan bilang, meski banyak agen yang sudah ditangkap, jaringan spionase mereka terus beregenerasi. Baru-baru ini, intelijen IRGC kembali menangkap seorang warga asing yang diduga bekerja untuk Mossad. Penangkapan ini disebut bukti bahwa operasi Israel berjalan simultan menggabungkan mata-mata, perang informasi, dan dukungan untuk kelompok anti-pemerintah.
Tak berhenti di situ. Di berbagai provinsi, operasi kontra-terorisme terus digencarkan. Di Ilam, aparat menewaskan seorang yang disebut sebagai pemimpin teroris. Di Mashhad, bentrokan dengan kelompok bersenjata menewaskan seorang militan dan melukai petugas keamanan. Pemerintah Provinsi Razavi Khorasan melaporkan tujuh personel keamanan gugur dua di antaranya tewas ditikam. Teheran berulang kali menegaskan, ini bukan protes, tapi "operasi teror terkoordinasi dari luar negeri".
Dalam situasi yang makin panas, Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersikap keras. Dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Oman, ia menegaskan AS salah besar jika mengira taktik mereka bisa diterapkan di Iran.
Ia menuding Washington bersikap munafik selama negosiasi nuklir dan melakukan "kejahatan terhadap kemanusiaan" lewat sanksi ekonomi.
Pezeshkian yakin upaya penghasutan dari luar tidak akan berhasil. Justru, dukungan pada pemerintah akan menguat ketika tekanan asing makin besar. Dalam kesempatan lain, ia menuduh AS dan Israel sebagai aktor utama perusak stabilitas kawasan.
Sementara itu, Tentara Iran mengeluarkan pernyataan tegas. Mereka siap melindungi infrastruktur vital dan keamanan publik. Israel dan kelompok "teroris bermusuhan" dituding berada di balik upaya menciptakan kekacauan. Rakyat pun diseru untuk tetap waspada terhadap upaya destabilisasi yang dikoordinasi musuh dari luar.
Retorika Panas dan Ancaman yang Terbuka
Di kubu lain, Presiden Donald Trump kembali bersuara lantang mendukung demonstran Iran. Lewat media sosial, ia menyatakan AS "siap membantu" rakyat Iran. Ia bahkan memperingatkan pemerintah Iran agar tidak menindak keras, dengan ancaman akan "ikut campur" jika terjadi pembunuhan massal seperti dulu.
Sejalan dengan itu, Reza Pahlavi putra mendiang Shah Iran mengajak rakyat Iran untuk merebut pusat-pusat kota. Bagi Teheran, seruan ini adalah bukti nyata intervensi kelompok diaspora yang didukung Barat.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyebut demonstran sebagai "perusak". Ia bahkan memprediksi AS akan mengalami nasib serupa dengan dinasti monarki Iran sebelum Revolusi 1979. Republik Islam, tegasnya, tidak akan mundur.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, lebih keras lagi. Ia mengancam, jika AS menyerang, maka seluruh fasilitas militer AS dan Israel akan jadi "sasaran sah". Retorika ini menunjukkan eskalasi sudah merambah ke ancaman militer langsung, bukan lagi sekadar diplomasi.
Peran Mossad dalam semua ini kian terang benderang. Seruan publik mereka yang mendorong rakyat Iran terus berprotes memperkuat dugaan bahwa operasi intelijen sudah tak lagi disamarkan. Dukungan itu bukan cuma seruan moral dalam pernyataannya tersirat bantuan operasional.
Konflik Iran-Israel yang berlangsung dua belas hari awal tahun ini juga memberi gambaran. Israel menyerang fasilitas nuklir Iran, yang dibalas dengan drone dan rudal. AS lalu ikut menargetkan titik nuklir tertentu sebelum gencatan senjata diumumkan. Rangkaian ini menunjukkan perang bayangan yang selama ini berlangsung diam-diam, kini kian terbuka dan berisiko tinggi.
Israel dituding Iran telah lama menyabotase fasilitas nuklir, membunuh ilmuwan, dan mendanai oposisi. Sementara Teheran sendiri mengakui dukungannya pada Hizbullah, Hamas, dan kelompok perlawanan lain. Siklus saling serang ini membentuk pola perang hibrida yang kompleks, di mana batas antara intelijen dan operasi militer jadi kabur.
Untuk memahami bagaimana Mossad menjadi aktor kunci, kita bisa lihat buku Mossad: The Greatest Missions of the Israeli Secret Service karya Michael Bar-Zohar dan Nissim Mishal. Terbit tahun 2010, buku ini mengurai kronik operasi intelijen Israel dari penangkapan Eichmann, pemburuan dalang Pembantaian Munich, sampai operasi sabotase di Timur Tengah.
Meski ditulis sebelum eskalasi terkini, beberapa bab awal sudah menggambarkan bagaimana Mossad menyusup ke jaringan penelitian nuklir Iran. Narasi Bar-Zohar dan Mishal menunjukkan perang bayangan antara kedua negara ini sudah berlangsung lama. Apa yang terjadi sekarang hanyalah kelanjutan dari pola konflik yang makin canggih.
Dalam wacana resminya, AS membungkus dukungan dengan narasi demokrasi dan HAM. Tapi fakta di lapangan berkata lain: narasi itu berjalan beriringan dengan mobilisasi militer, operasi siber, dan kampanye informasi terkoordinasi. Bagi Iran, ini ancaman langsung pada kedaulatan ancaman yang tak bisa dijawab cuma dengan kata-kata.
Ketegangan ini mencerminkan tantangan besar kedaulatan di era modern. Operasi intelijen bisa mengalahkan diplomasi, narasi demokrasi bisa jadi alat intervensi, dan protes domestik bisa berubah jadi bagian dari perang geopolitik global.
Masa depan Iran dan stabilitas kawasan kini ditentukan oleh bagaimana masing-masing pihak memahami batas antara advokasi dan intervensi. Bagi Iran, ini pertarungan untuk keberlanjutan negara. Bagi AS dan Israel, ini pertarungan untuk membentuk ulang peta keamanan Timur Tengah.
Konflik ini memperlihatkan bahwa kedaulatan sebuah negara tak hanya terancam oleh perang terbuka. Ancaman yang lebih halus operasi intelijen yang bergerak senyap justru berdampak sangat dalam. Strategi tekanan AS, operasi rahasia Mossad, dan respons keras Teheran membentuk babak baru geopolitik yang akan menentukan arah kawasan, bahkan mungkin dunia.
Aji Cahyono. Pemerhati Isu Geopolitik Indonesia & Timur Tengah; Founder & Direktur Eksekutif Indonesian Coexistence.
Artikel Terkait
JPPI Desak Pemberhentian dan Pencabutan Gelar Guru Besar Unpad Terduga Pelaku Pelecehan
NO NA Rilis Single Rollerblade Jelang Tampil di Festival Head In The Clouds 2026
Jaksa Tuntut Mantan Pejabat Kemendikbud 6-15 Tahun Penjara atas Korupsi Chromebook Rp 2,1 Triliun
Gencatan Senjata Israel-Lebanon Langsung Diwarnai Pelanggaran di Berbagai Front