Di sisi lain, tanggal yang sama juga dikenal sebagai Hari Penerbit Buku. Peringatan ini kurang mendapat sorotan luas, tapi maknanya penting. Ia hadir untuk mengapresiasi jasa para penerbit yang jadi jembatan antara penulis dan pembaca.
Mereka lah yang punya andil besar dalam menyebarkan ilmu dan menjaga gairah literasi. Jadi, hari ini bisa kita anggap sebagai pengingat betapa buku-buku yang kita pegang adalah hasil kerja keras banyak pihak. Sekaligus momentum untuk terus mendukung dunia baca dan terbit-men-terbit.
International Fetish Day
Lalu, ada juga International Fetish Day yang jatuh pada tanggal ini. Peringatan ini memang lebih niche dan mungkin tidak semua orang familier. Tujuannya sebenarnya untuk membuka dialog serta mengurangi stigma seputar preferensi personal yang sering dianggap tabu.
Dicetuskan pertama kali sebagai kampanye kesadaran, peringatan ini lebih banyak dirayakan oleh komunitas tertentu di tingkat internasional. Esensinya adalah mendorong pemahaman dan penerimaan yang lebih terbuka terhadap keberagaman yang ada di masyarakat.
Artikel Terkait
Ibas Kunjungi Gontor, Tegaskan Pesantren sebagai Benteng Moral Bangsa
Idul Fitri 2026 Diprediksi Jatuh pada 21 Maret, Libur Panjang hingga Satu Pekan
Lippo Cikarang (LPCK) Capai Target Penjualan Rp1,65 Triliun, Pendapatan Melonjak 133%
MK Hapus Frasa Tidak Langsung dalam Pasal 21 UU Tipikor untuk Cegah Pasal Karet