Trump Ancam Iran: Tindakan Sangat Keras Jika Demonstran Digantung

- Rabu, 14 Januari 2026 | 08:35 WIB
Trump Ancam Iran: Tindakan Sangat Keras Jika Demonstran Digantung

Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran. Kali ini, ia menyatakan Amerika Serikat siap bereaksi dengan tegas jika otoritas di sana menindak para demonstran anti-pemerintah. Trump menegaskan, tindakan keras akan diambil.

Ketika ditanya tentang kabar bahwa sejumlah pengunjuk rasa bisa dijatuhi hukuman gantung, Trump tak ragu menunjukkan sikapnya.

"Kami akan mengambil tindakan yang sangat keras jika mereka melakukan hal seperti itu," ujarnya, seperti dilaporkan AFP, Kamis (14/1/2026).

Ia melanjutkan dengan nada yang lebih tegas, "Ketika mereka mulai membunuh ribuan orang -- dan sekarang Anda memberi tahu saya tentang penggantungan. Kita akan lihat bagaimana hasilnya bagi mereka."

Pesan itu sebenarnya bukan hal baru. Dalam kesempatan itu, Trump mengulang kembali apa yang sudah ia sampaikan di media sosial. Ia meminta para demonstran untuk tetap tenang dan tak perlu khawatir. Menurutnya, bantuan untuk mereka "sedang dalam perjalanan".

Di sisi lain, Trump mengaku masih kesulitan memastikan jumlah korban tewas yang sebenarnya. Angka yang beredar, katanya, sangat beragam.

"Saya mendengar angka-angka lihat, satu kematian saja sudah terlalu banyak tetapi saya mendengar angka yang jauh lebih rendah, dan kemudian saya mendengar angka yang jauh lebih tinggi," jelasnya.

Soal laporan pembunuhan terhadap demonstran, Trump menyatakan akan segera mendapat pengarahan mendalam. Ia berjangi akan bertindak berdasarkan informasi yang akurat.

"Pembunuhan itu tampaknya signifikan, tetapi kita belum tahu pasti. Saya akan tahu dalam 20 menit dan kita akan bertindak sesuai dengan itu," tambahnya.

Sebelumnya, Trump memang sudah berjanji Amerika akan campur tangan jika pengunjuk rasa sampai dibunuh. Batasan itu, sayangnya, disebut-sebut sudah dilanggar beberapa hari lalu. LSM Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia menyebut setidaknya 734 orang tewas, meski angka sebenarnya diduga bisa mencapai ribuan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar