Prabowo dan Pesan Tersembunyi untuk Siswa Sekolah Rakyat

- Minggu, 11 Januari 2026 | 13:00 WIB
Prabowo dan Pesan Tersembunyi untuk Siswa Sekolah Rakyat

Pesan Tersembunyi di Buku Catatan

Juniar Diah Afifah baru menyadarinya setelah semuanya usai. Di buku catatannya yang tergeletak di kamar asrama, ada tulisan tangan yang tak ia duga. Presiden Prabowo Subianto, dalam kunjungannya ke SRMA 10 Jakarta Selatan pada suatu Kamis di September lalu, ternyata menyempatkan diri menuliskan pesan pribadi. "Belajarlah yang baik, hormati guru. Cintai ayah dan ibu," tulisnya. Pesan itu berlanjut dengan nasihat untuk rajin sembahyang, bersikap sopan, rajin olahraga, mencintai tanah air, dan selalu bersemangat serta gembira.

Bagi Juniar yang berusia 16 tahun, momen itu sungguh di luar dugaan. Ia mengaku terkejut sekaligus senang bukan main. Tak pelak, ia langsung membagi cerita ini pada teman-teman sekamarnya. "Mereka bilang iri, sih," akunya, "tapi ya ikut senang juga."

Ini cuma satu dari sekian momen yang menunjukkan perhatian khusus Prabowo pada program Sekolah Rakyat. Sepertinya, bagi Presiden, program ini bukan sekadar proyek administratif. Ia menaruh perhatian nyata, terutama pada anak-anak didiknya. Kunjungan spontan dan interaksi langsung seperti itu seolah menjadi caranya untuk memastikan komitmen itu sampai.

Surat-Surat yang Dibaca Langsung

Kedekatan itu juga terasa dari hal-hal sederhana. Misalnya, saat ia membaca surat dari Erni Andayani, siswi SRMP 10 Cibinong. Dalam unggahan Instagram Sekretariat Kabinet, terlihat Prabowo menyimak isi surat itu.

Erni menceritakan bagaimana Sekolah Rakyat mengubah hidupnya. Dulu, gambaran masa depan tampak buram. Kini, dengan fasilitas belajar yang lengkap dan makanan bergizi terjamin, ia bisa menatap hari esok dengan lebih tenang dan penuh harap.

Lalu ada Muhammad Daffa Rasyid dari SRMP 2 Bandung Barat. Di ulang tahun Presiden yang ke-74, Daffa mengirimkan surat ucapan. Prabowo membacanya dengan saksama. Dalam suratnya, Daffa tak cuma memberi selamat. Ia juga mendoakan kesehatan sang Presiden dan punya harapan sederhana: suatu hari nanti, Prabowo bisa berkunjung ke sekolahnya.

Wajah di Balik Foto: Kisah Naila

Komitmen ini mungkin berakar dari keprihatinan yang mendalam. Dalam sebuah acara halalbihalal di Balai Kartini, Prabowo pernah menunjukkan foto seorang anak perempuan bernama Naila. Di sebelahnya, terpampang gambar rumah yang sangat sederhana.

"Orang tuanya penghasilan di bawah Rp1 juta, padahal tanggungannya lima orang," ujarnya kala itu. Suaranya terdengar berat. "Yang menarik bagi saya, rumahnya seperti ini Naila masih bisa senyum."

Momen itu seperti menjadi pengingat baginya, sekaligus bagi semua yang hadir. "Ini perjuangan kita," tegas Prabowo. "Sisa hidup saya adalah untuk mengubah nasib Naila-Naila lain di Indonesia. Kalau ada yang tanya, 'apakah mungkin?', harus mungkin."

Hormat untuk Pahlawan di Balik Layar

Perhatiannya tak hanya untuk siswa. Di hadapan lebih dari dua ribu guru dan kepala sekolah Sekolah Rakyat di JIExpo Kemayoran, Prabowo melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia memberikan hormat.

"Saya ini prajurit," katanya, menjelaskan tindakannya. "Di tentara kita ada kebiasaan, kalau kita sangat bangga dengan anak buah, pemimpin harus hormat ke anak buah. Saya Presiden Indonesia, saya bangga dengan kalian semua."

Gestur itu, sederhana namun kuat, menyiratkan apresiasi yang dalam pada para pengajar yang menjadi ujung tombak program ini.

Lebih Dari Sekadar Sekolah

Pada intinya, Sekolah Rakyat adalah gagasan Prabowo untuk memutus mata rantai kemiskinan yang sudah turun-temurun. Program ini menyasar anak-anak dari keluarga paling membutuhkan, tanpa tes seleksi. Hingga 2025, sudah ada 166 sekolah rintisan yang beroperasi, menampung hampir 16.000 siswa dengan dukungan ribuan tenaga pendidik.

Tapi cakupannya lebih luas dari sekadar kelas. Program ini ibarat miniatur pengentasan kemiskinan yang terintegrasi. Siswa dapat cek kesehatan gratis, makan bergizi, dan dilindungi oleh jaminan kesehatan. Bahkan keluarganya pun mendapat pendampingan, mulai dari bantuan sosial, program pemberdayaan, hingga dukungan untuk mendapatkan hunian yang layak.

Tujuannya jelas: menciptakan generasi yang tak cuma pintar akademis, tapi juga berkarakter dan terampil. Siap untuk melanjutkan pendidikan, terjun ke dunia kerja, atau memulai usaha. Menjadi agen perubahan bagi diri sendiri dan keluarganya.

Puncak di Banjarbaru

Perjalanan program ini akan mencapai momen penting Senin depan. Prabowo, bersama jajaran menteri dan kepala daerah, akan meresmikan Sekolah Rakyat Terpadu di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Acara itu tak akan sekedar seremonial. Rencananya, para siswa dari berbagai Sekolah Rakyat akan unjuk kebolehan. Mulai dari baris-berbaris, pertunjukan teater, paduan suara, hingga pidato dalam tiga bahasa: Arab, Inggris, dan Mandarin. Sebuah pertunjukan nyata dari hasil perhatian dan perjuangan yang selama ini digaungkan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar