Akibatnya, kemacetan berlarut-larut. Begitu parahnya, sampai banyak pengendara yang memilih mematikan mesin kendaraan mereka. Komaruddin mengakui ini adalah respons wajar pengguna jalan.
"Ini memang kebiasaan pengendara kalau sudah padat," katanya. "Ada kecenderungan mematikan mesin dengan alasan hemat BBM, supaya nggak polusi juga."
Masalah lain datang dari banyaknya titik putar balik atau U-turn. Untuk truk kontainer berukuran raksasa, manuver berputar bukan perkara mudah. Mereka butuh ruang dan waktu ekstra. "Truk-truk kontainer panjang itu kan kalau putar di U-turn dia perlu manuver dulu," ucap Komaruddin.
Beruntung, petugas di lapangan sudah bergerak sejak dini untuk mengurai benang kusut ini. Upaya mereka akhirnya membuahkan hasil. Meski perlahan, arus lalu lintas mulai mencair mendekati tengah malam.
"Semalam kami bisa urai, sebenarnya mengalir saja ada perlambatan," pungkas Komaruddin. "Sehingga jam 22.30 WIB mulai mencair."
Artikel Terkait
Remaja Perempuan di Malang Tewas Dibunuh, Pacar Ditangkap Usai Identifikasi DNA
Imipas Longgarkan Standar Risiko Narapidana untuk Atasi Kepadatan Lapas
Pelatnas Kirim Atlet Lebih Awal untuk Aklimatisasi Jelang All England 2026
Bus Transjakarta Tabrak Pengendara Motor di Gunung Sahari, Korban Luka Parah