Akibatnya, kemacetan berlarut-larut. Begitu parahnya, sampai banyak pengendara yang memilih mematikan mesin kendaraan mereka. Komaruddin mengakui ini adalah respons wajar pengguna jalan.
"Ini memang kebiasaan pengendara kalau sudah padat," katanya. "Ada kecenderungan mematikan mesin dengan alasan hemat BBM, supaya nggak polusi juga."
Masalah lain datang dari banyaknya titik putar balik atau U-turn. Untuk truk kontainer berukuran raksasa, manuver berputar bukan perkara mudah. Mereka butuh ruang dan waktu ekstra. "Truk-truk kontainer panjang itu kan kalau putar di U-turn dia perlu manuver dulu," ucap Komaruddin.
Beruntung, petugas di lapangan sudah bergerak sejak dini untuk mengurai benang kusut ini. Upaya mereka akhirnya membuahkan hasil. Meski perlahan, arus lalu lintas mulai mencair mendekati tengah malam.
"Semalam kami bisa urai, sebenarnya mengalir saja ada perlambatan," pungkas Komaruddin. "Sehingga jam 22.30 WIB mulai mencair."
Artikel Terkait
BMKG Prakirakan Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Jakarta Pagi Ini
Serangan Energi Guncang Pasar Minyak, Indonesia Incar Pasokan Alternatif dari Rusia
Yusril Tegaskan Kasus Air Keras Aktivis KontraS Tetap di Pengadilan Militer
Pertemuan AS Dijadwalkan, Lebanon dan Israel Bahas Gencatan Senjata